RAMALAN TENTANG HARI KIAMAT

1015

PARA pakar rajin memperkirakan datangnya kiamat. Tidak disadari isi kepala mereka telah lebih dulu kiamat.

Ilmu sedangkal tumit disombongkan dianggap telah basah air selautan, bahkan delapan lautan.

Mereka tidak memahami laut sedang menahan diri menunda kemarahan dengan gulungan ombak dan gelombang.

Sekali purnama, wajah laut yang biru memerah ingin mencaplok rembulan untuk menenggelamkan bumi dalam sekejap.

Tetapi emosi laut terus tertahan, karena matahari belum sejengkal di atas kepala.

Selama salju puncak Himalaya, sepanjang gletser Jaya Wijaya belum cair, bumi masih aman.

Tetapi para ilmuwan masih juga menghitung hari akhir dengan dengan pikiran di tumit.

Menghitung dengan sejuta jari pun, dada mereka pasti hampa karena pelita tak kunjung menyala.

Ketika bumi menyampaikan berita, mereka bingung dan bertanya. Mereka melihat manusia bangkit dari kubur seperti cendawan di musim hujan.

Itulah hari pembalasan yang kalian hitung tiap pagi, siang, petang dan malam hari, ucap bumi di setiap telinga.

Tanah gemuruh menggema: aku diperintah Tuhanmu untuk menguras perut bersama gunung-gunung.

Tidak ada kebaikan yang tak terbalas dan tidak ada keburukan yang tak terhukum, meski itu sebiji zarah.

Seluruh mulut rapat terkunci, piranti tubuh manusia mulai bicara tentang apa yang dilakukan jiwa dalam menapaki dunia.

Sebagian kecil selamat bersama Rasul Muhammad, sebagian besar menyesal karena tertinggal di jalan merah saga.

Kiamat itu ilmu langit. Manusia tak akan tahu, kecuali sedikit diberi tahu. Tetapi pasti tidak.

Balada 31 Desember 2021

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.