Sampah di Gunungkidul Belum Jadi Duit

1006

WONOSARI-SELASA LEGI | Berdasarkan penjelasan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul Agus Priyanto, dokumen awal Maret 2020, warga Gunungkidul memproduksi sampah 360 ton per hari. Sementara yang diangkut ke TPAS Wukirsari, Baleharjo hanya 35 ton perhari. Sisanya ke mana, Agus bilang tidak termonitor.

Dalam satu kesempatan, Kadinas DLH Gunungkidul merilis, mengapa tidak 360 ton sampah belum terserap seluruhnya sebab terkendala alat pengangkut.

Sesungguhnya sampah Gunungkidul potensial menyumbang PAD seperti terjadi di Benowo, Jawa Timur, seperti ditulis dalam artikel Arif Setiyadi, anggota DPRD DIY, di media ini tempo hari.

Sampah Gunungkidul bisa dimanfaatkan menjadi pembangkit tenaga listrik, yang perbulan menghasilkan Rp 2 miliar.

Saat ini Para tokoh Gunungkidul mulai terusik, tetapi yang kerepotan nampaknya justru eksekutif.

“Karena postur APBD Rp 2 triliun, kasik menjadi alasan, bahwa tidak cukup guna membiayai proyek seperti di Benowo,” demikian Arif Setiyadi memperkirakan, 16-11-2021.

Menduplikasi Benowo, ini menurut akademisi UNPAD, Dr. Tugiman, warga asli Kedungpoh Nglipar, Gunungkidul, bahwa sampah di Gunungkidul belum dianggap masalah serius.

“Karena rumus menganalisis sampah itu sederhana. Luas Wilayah dihadapkan pada jumlah penduduk, sementara Gunungkidul bukan daerah industri,” kata Dr. Tugiman.

Berikutnya, sampah di Gunungkidul belum menyumbang PAD, kecuali retribusi, timpal Eko Rustanto, anggota DPRD Gunungkidul.

H. Sunaryanta, Bupati anyar, dengan ambisi menarik banyak investor, belum pernah menyinggung sampah di Gunungkidul. (Bambang Kluthik)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.