Seorang Janda Menderita Penyakit Langka Enggan Dirawat di RS

1740

INFOGUNUNGKIDUL, SABTU PON

PONJONG-Poniyem (80) Warga Padukuhan Gendaren 1 RT 01 RW 05 Desa Sumbergiri Kecamatan Ponjong hidup sebatang kara tanpa anak dan keluarga. Poniyem menderita penyakit langka, sekujur kulit tubuh dan wajah mengalami seperti luka bakar.

Kondisi demikian pastinya mengundang iba serta kepiluan bagi yang melihat. Sri Fajariyah, S. Pd dibantu tetangga, dan warga sekitar peduli terhadap kondisi janda renta tersebut.

Ditemui di kediamanya Poniyem didampingi Dukuh Gendaren 1, Kasiman menjelaskan, kondisi Poniyem saat ini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Diawal menderita sakit, kulit Poniyem bengkak dan berair.

“Sekarang kondisinya sudah mengering, dan yang bersangkutan merasa enakan tidak panas dan gatal seperti saat masih berair,” jelasnya.

Lebih lanjut Kasiman menjelaskan, meskipun Poniyem sebatang kara tidak ada anak maupun keluarga, namun masih memiliki kemenakan Sri Fajariyah seorang guru di Kecamatan Ponjong. Selama ini menurut Dukuh Gendaren 1, dialah yang menanggung segala kebutuhan Poniyem.

Poniyem sendiri sebenarnya memiliki BPJS dan program bantuan pemerintah lainnya, namun demikian ketika dibujuk untuk dirawat di rumah sakit dirinya tidak mau. Ketika akan diboyong oleh Sri Fajariyah untuk tinggal serumah, Poniyem tetap bersikukuh tidak mau dan akan tinggal di rumahnya sendiri.

“Memang mbah Pon ini susah untuk diarahkan, diboyong untuk tinggal serumah dengan bu Sri tidak mau, dirawat di rumah sakit secara gratis dan nanti ada yang nunggui tetap tidak mau. Apa boleh buat, penyakitnya hanya diobati di rumah, namun obat mbah Pon tidak pernah terlambat, semua dicukupi oleh bu Sri,” ungkap Kasiman.

Kasiman menambahkan, kepedulian para tetangga dan warga sekitar kepada Poniyem juga tidak setengah hati, mereka secara ikhlas membantu Sri Fajariyah dalam merawat Poniyem, meskipun memang tidak bisa menunggui 24 jam full.

“Yang bisa kami lakukan bersama tetangga sekitar hanya menyambangi, bagi kami jangan sampai mbah Pon ini merasa sendiri apalagi dikucilkan. Kita semua ikhlas merawat beliau,” jelas Kasiman.

Sementara itu Poniyem, sambil berbaring dan dengan logat bahasa Jawa ia beralasan, bahwa dirinya hidup mati mau di rumah saja.

“Kulo pilih onten nggubuk kulo ngantos mati pak. (saya pilih ada dirumah saya sampai mati pak),” ungkapnya.

Saat ini yang dibutuhkan Poniyem adalah pakaian wanita (longgar), sebab pakaian yang digunakan hanya sekali pakai langsung dibakar. Warga mewaspadai hal tersebut dilakukan agar kuman tidak menyebar, karena memang penyakit Poniyem terbilang tidak lazim. (Ag/ig)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.