Song Pedang, Bukti Kehidupan Prasejarah Gunung Sewu

1418

PANGGANG -MINGGU WAGE | Sekilas memang tidak ada yang istimewa. Tebing karang putih setinggi 15 meter, dengan dasar membentuk ceruk di Pedukuhan Karang, Kalurahan Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul ini. Song Pedang, nama tempat tersebut, menjadi salah satu bukti Kehidupan Prasejarah Gunung Sewu.

Satu yang tampak berbeda yakni, di dasarnya ditemukan banyak bertebaran kulit kerang, sedangkan tempat itu, terbilang cukup jauh dari pantai.

Salah seorang warga setempat Priyadi (36) mengatakan, bahwa memang ada banyak ceruk tebing serupa, namun menurutnya, hanya Song Pedang ini, tempat yang memiliki keunikan.

Meski tak pernah difungsikan secara khusus, keberadaan Song Pedang pun sudah lama diketahui warga setempat lantaran banyak menyimpan cerita rakyat.

“Kalau yang lain hanya berupa ceruk atau bahkan Goa Karst Putih. Tapi cuma di Song Pedang ini yang ditemukan banyak bekas kulit kerang,” kata, Priyadi, Minggu (25/10/2020) siang.

Priyadi menambahkan, bahwa Song Pedang dulunya diyakini merupakan dasar laut.

Ada pula yang mengatakan, jika situs tersebut berkaitan dengan kisah kerajaan pada Jaman Majapahit.

Cerita lain menyebut, konon tempat tersebut dipergunakan untuk bertapa demi mendapatkan pedang emas.

Menurut cerita versi lain, bahwa pada jaman dahulu tempat ini juga difungsikan untuk berlindung saat terjadi perang.

“Kalau menurut ceritanya, ada peninggalan kerajaan di sini. Seperti emas atau semacamnya,” ucap Priyadi.

Bahkan menurut cerita, Song Pedang menjadi salah satu lokasi persembunyian harta Majapahit terbesar.

Tak mengerankan, jika suatu hari, dijelaskan Priyadi, tempat ini kedatangan orang luar yang ingin “menguak” harta tersebut. Namun oleh warga setempat, tidak dizinkannya.

Kendati ceritanya simpang siur, namun Situs Song Pedang rupanya sempat menjadi obyek penelitian oleh tim Badan Arkeologi Yogyakarta pada 2019 lalu. Menurut Priyadi, penelitian tersebut berlangsung 2 pekan lamanya.

Terpisah, Penanggungjawab Penelitian Song Pedang, Rizka Purnamasari membenarkan adanya penelitian tersebut. Berdasarkan kajian selama Juli-Agustus 2019, banyak temuan arkeologis dari situs tersebut.

“Bisa disimpulkan Goa Song Pedang dulunya digunakan sebagai hunian tetap jangka panjang, bukan basecamp untuk perburuan,” kata Rizka saat dihubungi secara terpisah.

Beberapa temuan arkeologis, menurut Rizka, berupa fragmen gerabah, lancipan tulang, spatula, serpih, sisa-sisa tulang hewan, sisa-sisa kerang, serta fragmen tengkorak dan rahang manusia.

Lancipan tulang yang ditemukan diduga berasal dari tulang spesies Macaca sp, atau primata sejenis kera.

Sementara kulit kerang yang banyak ditemukan, dijelaskan Rizka, adalah jenis kerang hijau.

Dikatakanny lebih lanjut, temuan di Song Pedang merupakan bukti kehidupan masa prasejarah di kawasan Karst Gunung Sewu.

Temuan serupa, sebelumnya juga didapatkan di Pacitan, Jawa Timur, dan Kapanewon Rongkop Kabupaten Gunungkidul.

“Situs Song Pedang ini setidaknya bisa menjawab bagaimana gambaran kehidupan prasejarah Gunung Sewu bagian barat,” jelas Rizka. (Hery)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.