Sulap Tanaman Gulma Jadi Kerajinan Bernilai Tinggi, Di Ekspor Ke Tiga Benua  

267

SEMANU-RABU PON | Pandemi COVID-19 berdampak besar pada sektor industri dan usaha mikro kecil menengah atau UMKM. Banyak pelaku usaha harus mengurangi tenaga kerja, bahkan sebagian diantaranya gulung tikar. Namun ada juga industri yang bertahan bahkan tidak terpengaruh sama sekali dengan adanya pandemi COVID-19, salah satunya industri kerajinan enceng gondok.

Bahkan industri kreatif yang mengekspor hasil kerajinan ke 3 benua ini mampu menyerap ratusan tenaga kerja ditengah arus PHK akibat pandemi.

Berbagai barang fungsional seperti keranjang hingga tas ini merupakan kerajinan tangan dari bahan eceng gondok dan pelepah pisang. Barang – barang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan bahkan merupakan tanaman gulma ini, ternyata justru dapat menjadi bahan baku untuk kerajinan yang sangat laris di luar negeri.

Ridho (50) warga asal Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul inilah yang mengubah bahan baku enceng gondok, pelepah pisang hingga mendong, untuk dijadikan produk kerajinan bernilai tinggi. Sejak tahun 2002, pria kelahiran Cirebon ini menekuni bisnis kreatif pembuatan kerajinan.

“Awalnya saya pengrajin bahan baku rotan, namun karena seiring mahalnya harga rotan, saya mencoba beralih ke bahan baku lain yakni enceng gondok ini,” katanya, Rabu (03/03/2021) pagi.

Hasil karyanya ternyata menarik minat perusahaan eksportir kerajinan, hingga kini, tidak kurang sepuluh perusahaan ia suplai untuk pasar ekspor ke 3 benua, yakni Eropa, Amerika dan Australia.

Enceng gondok, mendong dan pelepah pisang yang ia beli kiloan dari daerah Jawa Tengah, ia kreasikan menjadi aneka jenis barang fungsional, seperti keranjang, tas, hingga aksesoris rumah dengan berbagai ukuran. Corak warna dan bahan baku yang alami, justru menjadi daya tarik bagi pasar luar negeri.

Di awal pandemi lalu saat ekspor dibatasi, pengiriman barang ke luar negeri pun sempat tertunda selama 3 bulan. Namun, penundaan tersebut justru berdampak posiitif bagi pelaku industri kreatif seperti dirinya.

“Sejak pengiriman kembali dibuka, jumlah permintaan malah meningkat tajam. Bahkan saya sendiri mengaku kewalahan memenuhi permintaan dari pasar ekspor,” paparnya.

Dikatakannya lebih lanjut, untuk tetap memenuhi permintaan pasar, Ridho memberdayakan masyarakat disekitar tempat tinggalnya. Tidak kurang sekitar 450 warga terberdayakan untuk menggarap kerajinan enceng gondok. Sebagian besar dikerjakan di rumah masing-masing dan hasil jadinya dibawa ke gudang miliknya untuk dilakukan finishing.

Besarnya serapan tenaga kerja dari industri rumahan ini membuktikan bahwa industri kreatif mampu bertahan ditengah pandemi dan menjadi solusi besarnya arus PHK sebagai dampak pandemi.

“Sekali pengiriman, tidak kurang 200 sampai 400 barang kerajinan dikirim ke perusahaan ekspor. Pengiriman ini saya lakukan 2 kali dalam sepekan,” tambahnya.

Menurutnya, ditingkat pengrajin, hasil kerajinan ini dijual mulai Rp 25 ribu hingga Rp 250 ribu tergantung jenis dan ukurannya. Dengan harga jual tersebut, Ridho mampu meraup omzet hingga ratusan juta hingga 1 bulan.

Industri rumahannya membuktikan bahwa umkm mampu menjadi tulang punggung perekonomian di daerah yang bisa menyerap banyak tenaga kerja, seiring upaya Pemerintah memulihkan perekonomian Nasional akibat pandemi COVID-19.

“Harapan saya ya agar pandemi segera berakhir, agar perekonomian bisa kembali seperti biasa,” pungkas Ridho. (Heri)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.