Tiga Makna Tradisi Rasulan

12950

JAKARTA, Rabu Pon – Rasulan tidak perlu dipertenangkan dengan agama. Di dalamnya ada 3 makna yang perlu dicermati. Sekjen IKG, Sukardi SE, menuliskannya dalam artikel pendek sebagai berikut.

Upacara rasulan merupakan ungkapan  syukur petani kepada Sang Pencipta Allah SWT atas limpahan  panen selama setahun. Di Kabupaten Gunungkidul, umumnya dilaksanakan setelah panen raya atau setelah musim kemarau tiba.

Dengan bahasa lain, rasulan  dapat dimaknai sebagai  hubungan antara manusia dengan Sang Khalik, versi petani Jawa Gunungkidul.

Dalam melaksanakan rasulan, padukuhan atau  kelompok padukuhan, secara musyawarah menyepakati hari tertentu. Warga setempat  biasanya mengundang kerabat lain padukuhan.

Dalam konteks ini rasulan bisa dimaknai sebagai upaya menyambung tali silaturahmi. Ini makna rasulan yang kedua.

Tak jarang, dalam rasulan   dipertunjukkan pula berbagai macam kesenian tradisional mulai dari reog, doger, kethoprak, wayang kulit, kirab budaya, gunungan, juga  kegiatan olahraga seperti bola volly dan sepakbola.

Prosesi inti upacara rasulan adalah  kenduri ingkung ayam kampung dan nasi uduk. Ini nilai ketiga. Dalam rasulan ada nuansa ibadah shodaqoh.

Kesimpulan saya, tak perlu  orang memperdebatkan tradisi rasulan dengan agama. Yang perlu digarisbawahi adalah makna  rasulan yaitu : 1. wujud syukur,  2. silaturahmi, serta sodaqoh.

Semoga bermanfaat. Saya sebatas mengkompilasi dari berbagai sumber.

 

Penulis: Sukardi. SE (Sekjen  IKG)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.