Lebih lanjut ia mengatakan, lantaran ia setiap hari berada di kawasan bukit Mbonjing Wonosumilir, Hartoyo dapat merasakan sensasi yang membangkitkan pikirannya untuk menyulap bukit tersebut menjadi destinasi wisata.
“Ada kawan yang bilang, kalau bisa masyarakat Pindul jangan terpaku pada Goa. Harus ada alternatif lainnya,” tambahnya.
Perlahan namun pasti Hartoyo mengungkapkan, ia mulai menata lokasi dan mendirikan beberapa gazebo sederhana.
Selama enam bulan penuh ia terus menatanya, seiring itu pula ejekan, cemooh sering ia terima. Masyarakat menganggap ide Hartoyo tersebut adalah hal yang tak mungkin terwujud.
“Tapi, saya tetap semangat memperkenalkan kawasan tersebut ke masyarakat,”ungkapnya.
Menurutnya, berjalannya waktu pengunjung mulai masuk ke kawasan tersebut. Ia lantas melakukan pendekatan ke masyarakat terutama para pemuda sekitar untuk mengajak minum kopi dan bercengkrama di atas bukit.
Seolah gayung tersambut, perlahan 30 orang berkeinginan bergabung dan terbentuklah pengelola.
“Alhamdulillah sekarang banyak dikunjungi,” ucapnya.
Hartoyo menambahkan, saat ini omset dagang mereka mencapai Rp 700.000 (tujuh ratus ribu) perhari bahkan ketika ramai hingga mencapai Rp 1 juta.
Lebih lanjut, Hartoyo berharap apa yang ia rintis mampu membawa dampak positif bagi warga sekitar.
“Harapan saya, angka kemiskinan di wilayah ini jauh berkurang dibanding sebelumnya,” tandasnya. (Hery)













