“Ini fenomena luar biasa, saya senang bisa mengikuti prosesi labuhan di tengah laut,” katanya.
Endah mengatakan, pada saat berada di tengah laut, Ia merasa sangat kecil. Harta benda, kekuasaan itu tidak ada artinya, di saat alam mulai berbicara manusia tidak bisa berbuat apa-apa.
VIDEO TERKAIT :
“Manusia harus bisa merefleksikan diri, harus bisa bersyukur kepada Tuhan, masih diberikan keselamatan dan kesehatan,” ucapnya.
Selain itu, manusia juga harus bisa menjaga keseimbangan dengan alam, menjaga ekosistem alam dan manusia bisa berdampingan.
Di tempat yang sama, sesepuh dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat GRM Hertriasning mengatakan, melalui tradisi labuhan ini, akan meningkatkan semangat gotong toyong masyarakat untuk membangun wilayah pesisir dalam menyambut abad Samudera India.
“Jadi kegiatan ini luar biasa, ada kegotong royongan, ada golong gilig (menyatu) antara masyarakat nelayan, warga umum, dan pemerintah untuk membangun pesisir di sepanjang wilayah Gunungkidul,” ungkapnya.
Sebagai Daerah Istimewa yang mempunyai nilai histori, sosiologi, dalam bentuk kegotong-royongan, tradisi labuhan dianggap tidak ada pertentanganya karena masyarakat faham bahwa ini merupakan cikal bakal semua peradaban. (Red)
Page: 1 2
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…
GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…