Pendekatan Budaya, Perlambat Laju Bunuh Diri

1170

WONOSARI-KAMIS PON | Bunuh diri berkaitan erat dengan pola pikir, karena perilaku tersebut merupakan keputusan personal. Ada saran bahwa pencegahannya bisa dilakukan melalui pendekatan budaya, tetapi saran tersebut belum ada respon serius. Format pendekatan budaya itu seperti apa perlu dibicarakan antara legeslatif bersama eksekutif.

Prabu Jaya Baya Raja Kediri terkenal dengan salah satu ucapannya Londo lan Cino kari sak jodo, Wong Jowo kari separo. Ucapan itu dipandang sebatas ramalan, padahal lebih dari ramalan.

Ucapan tersebut merupakan kekhawatiran sang pujangga besar yang memerintah sekitar tahun 1135-1157, bahwa sepeninggalnya orang Jawa ilmunya tinggal separo, tidak lengkap dan tidak seimbang, sehingga mewarnai keputusan baik individual maupun institusional.

Tetapi Ketua Persatuan Paguyuban Dalang Indonesia (Pepadi) Heri Nugroho, S.Sn memiliki tafsiran lain.

Mengutip kompas.com, secara fisik geografis frase kari separo menurutnya berkaitan dengan peristiwa besar di tanah Jawa, Minggu, 26 Agustus 1883 pukul 12.53 WIB.

“Putusnya pulau Sumatera dengan pulau Jawa karena meletusnya gunung Krakatau,” ujar Heri Nugroho, di kediamannya, Ledoksari Kepek, Wonosari, 27-5-2021.

Sisi lain, dia tidak menampik kenyataan bahwa cara berpikir sebagian besar manusia Jawa juga tinggal separo karena tidak konsisten dengan sikap hidup orang Jawa yang diajarkan oleh para leluhur.

Dia mengambil contoh sederhana tembang Pupuh Dandang Gula. Di dalamnya banyak petuah, tetapi sekarang justru banyak diabaikan.

Akibatnya jati diri orang Jawa tidak lagi utuh, bahkan rusak dari dalam. Setidaknya terjadi dikotomi hitam putih ada orang Jawa bodoh dan orang Jawa pinter.

‘Meski kemudian terbalik, yang merasa pinter itu sesungguhnya bodi, yang dibodoh-bodohkan sebenarnya pinter,” ulasnya.

Fokus pada maraknya orang bunuh diri, Heri Nugroho sependapat bahwa pendekatan budaya penting dilakukan.

Formatnya seperti apa, menurutnya perlu dirembuk dan dirumuskan antara wakil rakyat dengan eksekutif. (Bambang Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.