WONOSARI-RABU WAGE | Wakil Bupati Heri Susanto, S.Kom, M.Si. serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menikmati puisi pendek berjudul ‘Menjaga Yang Tersisa’.
Tidak begitu panjang, puisi yang terdiri dari 9 bait itu dianggap menyentuh dan sempat diapresiasi dengan komentar lugas.
“Puisi kepasrahan hamba atas keagungan Sang Pencipta jagat raya. Ini ilmu sangkan paraning dumadi kelas tinggi,” tulis Wakil Bupati melalui aplikasi WhatsApp, 29-12-2021.
Dokter Dewi Irawaty pun tergelitik. Tidak banyak diketahui intelektual yang banyak bersentuhan dengan kesehatan masyarakat secara batiniah kental kelembutan di relung sanubarinya.
Artinya begitu dalam. Menurut saya, puisi itu dibalut kata-kata indah penuh kiasan yang mengungkap bahwa semua yang ada pada diri kita berbatas. Puisi itu mengingatkan diri kita bahwa semua akan kembali kepada-Nya” kata dr. Dewi Irawaty.
Lain pejabat lain rakyat. Yuli Saptono, pemilik lapak akik pasar Wonosari memaknai bahwa puisi Menunggu Yang Tersisa merupakan ratapan penulis.
“Ratapan sakit serta kepasrahan tertinggi kepada Allah, dalam konteks terima takdir,” ulas Yuli Saptono.
Penulis puisi di Gunungkidul banyak. Sesekali, Ketua DPRD Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih berpuisi di akun Facebooknya.
Begitu pula apresiator atau penikmat puisi. Tidak banyak diduga, bahwa penjabat level pimpinan daerah bisa menikmati puisi.
Sayangnya, bahwa Kundha Kabudayan selaku Organisasi Pemerintah Daerah yang dianggap paling bertanggungjawab membina puisi, justru kaku. Kebijakan yang diambil semi egois.
“Ranah kami pada karya geguritan atau puisi bahasa Jawa,” kata Rudi Ismanto, Kepala Bidang Bahasa dan Satra, Dinas Kebudayaan Gunungkidul. (Bambang Wahyu)






