JAKARTA, Rabu Pon – Rasulan tidak perlu dipertenangkan dengan agama. Di dalamnya ada 3 makna yang perlu dicermati. Sekjen IKG, Sukardi SE, menuliskannya dalam artikel pendek sebagai berikut.
Upacara rasulan merupakan ungkapan syukur petani kepada Sang Pencipta Allah SWT atas limpahan panen selama setahun. Di Kabupaten Gunungkidul, umumnya dilaksanakan setelah panen raya atau setelah musim kemarau tiba.
Dengan bahasa lain, rasulan dapat dimaknai sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Khalik, versi petani Jawa Gunungkidul.
Dalam melaksanakan rasulan, padukuhan atau kelompok padukuhan, secara musyawarah menyepakati hari tertentu. Warga setempat biasanya mengundang kerabat lain padukuhan.
Dalam konteks ini rasulan bisa dimaknai sebagai upaya menyambung tali silaturahmi. Ini makna rasulan yang kedua.
Tak jarang, dalam rasulan dipertunjukkan pula berbagai macam kesenian tradisional mulai dari reog, doger, kethoprak, wayang kulit, kirab budaya, gunungan, juga kegiatan olahraga seperti bola volly dan sepakbola.
Prosesi inti upacara rasulan adalah kenduri ingkung ayam kampung dan nasi uduk. Ini nilai ketiga. Dalam rasulan ada nuansa ibadah shodaqoh.
Kesimpulan saya, tak perlu orang memperdebatkan tradisi rasulan dengan agama. Yang perlu digarisbawahi adalah makna rasulan yaitu : 1. wujud syukur, 2. silaturahmi, serta sodaqoh.
Semoga bermanfaat. Saya sebatas mengkompilasi dari berbagai sumber.
Penulis: Sukardi. SE (Sekjen IKG)






