Ayam Kampung Diganti Jowo Super, Solusi Usaha Masa Pandemi

442

SAPTOSARI-JUMAT LEGI | Ketika Gunungkidul di bawah kendali Ir Soebekti Soenarto (1989-1994) pernah dikembangkan usaha ayam buras atau ayam kampung untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, 2021, Bupati Sunaryanta kembali mengungkit dan menumbuhkan peternakan ayam, namanya saja yang diganti menjadi jowo super, padahal wujud fisiknya masih sama.

Bupati H. Sunaryanta menyatakan, permintaan daging ayam nasional cukup besar. Menurutnya, hingga 2021 baru tercukupi 7% dari total permintaan yang jumlahnya jutaan ton, meski Bupati tidak menyebut secara rinci.

Pernyataan Sunaryanta digelindingkan di depan ratusan perwakilan peternak ayam jowo super di Kapanewon Saptosari, Jum’at 4-6-2021.

“Sepuluh tahun ke depan, beternak ayam jowo super prospeknya cukup bagus,” tegas Bupati Sunaryanta, disambut tepuk tangan hadirin yang mengikuti acara launching kemitraan ayam jowo super dengan sejumlah lembaga keuangan swasta lokal.

Sebagaimana diketahui, program kemitraan itu didukung oleh BMT Dana Insani, Koperasi Wirausaha Mandiri Gunungkidul (WMG) serta PT Permata Bukit Seribu Nusantara.

Di depan Bupati Gunungkidul H Sunaryanta, penewu Saptosari Jarot Hadiatmojo menyatakan, pengembangan ayam jowo super merupakan jawaban tepat bagi usaha ekonomi mikro di masa pandemi.

“Dengan modal pinjaman Rp 2,5 juta lebih setiap dua bulan sekali peternak ayam jowo super panen ayam,” terang Jarot Hadiatmojo.

Seribu peternak masing masing ditargetkan memelihara 100 ekor, maka pergerakan ekonomi Kapanewon Saptosari, menurut Jarot Hadiatmojo cukup nyata.

“Dengan catatan tidak terserang penyakit tetelo. Sebab ayam jowo ini meski disebut super, rentan terhadap penyakit,” kata salah satu peserta kepada media, setengah berbisik. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.