“Sudah hampir satu tahun ini sakit. Mulai total tidak bisa bekerja pada awal bulan November 2018 hingga saat ini. Bapak ini sebagai tulang punggung keluarga. Periksa rumah sakit sudah sering bahkan sampai di Sardjito Jogya,” ungkap Niyem.
Lebih lanjut dia menceritakan, di awal sebelum divonis menderita kanker satadium 4, kondisi suaminya hanya menyerupai orang terserang flu berat namun tanpa mengeluarkan ingus.
Melalui Bapel Jamkesos PKU Muhammadiyah Gelar Pemeriksaan TORCH
Niyem menyampaikan, meskipun suaminya tercover program BPJS, namun biaya akomodasi dan perawatan lainnya sangatlah besar sehingga saat ini dirinya hanya mampu pasrah, lantaran tak lagi memiliki apapun kecuali tempat tinggal.
Saat ini praktis seluruh aktifitas Suryanto hanya bisa dilakukan di tempat tidur, bahkan untuk makan saja harus melalui selang yang setiap dua minggu sekali harus diganti.
Hal itu membuat Niyem semakin teriris hatinya karena tidak mampu mencari penghasilan untuk biaya pengobatan suaminya.
“Anak masih kelas 4 SD, selain itu saya juga merawat mertua yang sudah jompo. Terkadang hati saya menjerit bila melihat bapak, dia semangat hidupnya tinggi. Sering dia bilang meskipun suaranya lemah, ayam dijual bu bila listrik belum di bayar. Aku masih ingin hidup masih ingin membesarkan anakku, ” ungkap Niyem menirukan suaminya.
Niyem menambahkan, saat suaminya kambuh dia hanya bisa menangis dalam hati sembari berdoa, perasaannya tercabik mendengar rintihan kesakitan Suryanto. Sementara untuk beli obat ataupun rawat inap di rumah sakit sudah tidak memiliki biaya.
Dengan mata berkaca-kaca Niyem berucap, dirinya akan sangat berterimakasih apabila ada dermawan yang peduli akan kondisi keluarganya. (ag)












