Aneh lagi, ketika bertemu dengan rakyat yang sejatinya adalah sang pemilik kedaulatan, mereka, para pejabat politik itu minta dihormati. Padahal merekalah yang seharusnya menghormati, karena kursi lima tahunan itu adalah milik rakyat.
Tanpa sadar, rakyat ‘dipaksa’ karena budaya, harus cium tangan para pejabat politik, dan bukan pejabat politik yang cium tangan rakyatnya. Ini benar-benar peradaban terbalik dan tidak tahu diri.
Rakyat, menurut Cak Nun, adalah Bos. Rakyat, kata dia, oleh sebab itu tidak sepatutnya dihinakan.
Pada tataran yang lebih tajam, manusia, mestinya menyembah Tuhan, sementara pada peradaban terbalik, Tuhan disuruh menyembah manusia.
Saking bebasnya peradaban demokrasi, tidak terasa bahwa sebagian manusia telah berani menghina Tuhan Sang Pencipta jagat seisinya dengan menolak perintah, kemudian mengerjakan semua laranganNya. Bambang Wahyu Widayadi
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL – SELASA PON, Seorang laki-laki berinisial S (64), warga Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, ditemukan…
PALIYAN - MINGGU PAHING, Pengemudi Toyota Inova diduga mengantuk mengakibatkan kecelakaan beruntun di Jalan Paliyan-Saptosari,…
YOGYAKARTA - SABTU LEGI, UNIT Studi Hukum Perdata (USHP) Fakultas Hukum Universitas Janabadra resmi meluncurkan…
GUNUNGKIDUL – SABTU LEGI, Menyongsong libur nasional dan perayaan Paskah 2026, Kepolisian Resor (Polres) Gunungkidul…
GUNUNGKIDUL – RABU PON, Guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi umat Kristiani dalam menjalankan…
YOGYAKARTA - RABU PON, Polisi berhasil mengamankan terduga pelaku penganiayaan di Jalan Kerto Muja Muju,…