Aneh lagi, ketika bertemu dengan rakyat yang sejatinya adalah sang pemilik kedaulatan, mereka, para pejabat politik itu minta dihormati. Padahal merekalah yang seharusnya menghormati, karena kursi lima tahunan itu adalah milik rakyat.
Tanpa sadar, rakyat ‘dipaksa’ karena budaya, harus cium tangan para pejabat politik, dan bukan pejabat politik yang cium tangan rakyatnya. Ini benar-benar peradaban terbalik dan tidak tahu diri.
Rakyat, menurut Cak Nun, adalah Bos. Rakyat, kata dia, oleh sebab itu tidak sepatutnya dihinakan.
Pada tataran yang lebih tajam, manusia, mestinya menyembah Tuhan, sementara pada peradaban terbalik, Tuhan disuruh menyembah manusia.
Saking bebasnya peradaban demokrasi, tidak terasa bahwa sebagian manusia telah berani menghina Tuhan Sang Pencipta jagat seisinya dengan menolak perintah, kemudian mengerjakan semua laranganNya. Bambang Wahyu Widayadi
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…
YOGYAKARTA - KAMIS PAHING, SEJUMLAH wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hari ini diperkirakan…
WONOSARI - KAMIS KLIWON | BDM (58) seorang lelaki pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Dinas…
GUNUNGKIDUL – KAMIS KLIWON | Kecelakaan tragis menimpa seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) di Jalan…
GUNUNGKIDUL - KAMIS KLIWON Setidaknya 1.780 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilarang beroperasi untuk sementara…
YOGYAKARTA - RABU PON | POLRES Bantul resmi menerbitkan Daftar Pencarian Orang atau (DPO) terhadap…