Aneh lagi, ketika bertemu dengan rakyat yang sejatinya adalah sang pemilik kedaulatan, mereka, para pejabat politik itu minta dihormati. Padahal merekalah yang seharusnya menghormati, karena kursi lima tahunan itu adalah milik rakyat.
Tanpa sadar, rakyat ‘dipaksa’ karena budaya, harus cium tangan para pejabat politik, dan bukan pejabat politik yang cium tangan rakyatnya. Ini benar-benar peradaban terbalik dan tidak tahu diri.
Rakyat, menurut Cak Nun, adalah Bos. Rakyat, kata dia, oleh sebab itu tidak sepatutnya dihinakan.
Pada tataran yang lebih tajam, manusia, mestinya menyembah Tuhan, sementara pada peradaban terbalik, Tuhan disuruh menyembah manusia.
Saking bebasnya peradaban demokrasi, tidak terasa bahwa sebagian manusia telah berani menghina Tuhan Sang Pencipta jagat seisinya dengan menolak perintah, kemudian mengerjakan semua laranganNya. Bambang Wahyu Widayadi
Page: 1 2
GUNUNGKIDUL - SABTU LEGI, Pemilihan Lurah (Pilur) serentak di Kabupaten Gunungkidul telah terlaksana, Sabtu (26/09/26).…
GUNUNGKIDUL – SABTU LEGI, Polemik pembongkaran Mushola Watu Bolong Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul…
GUNUNGKIDUL - JUMAT KLIWON, Geger persoalan pembongkaran mushola Watu Bolong Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten…
GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, SEBANYAK 18 unit rumah dinas Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda…
YOGYAKARTA - SELASA PAHING, Aipda S seorang oknum anggota polisi Polsek Kraton menjalani pemeriksaan Propram…
GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…