Budaya Nyadran Ditengah Pandemi

211

NGAWEN-JUMAT KLIWON- Tradisi Nyadran adalah salah satu budaya turun temurun masyarakat Islam Jawa pasca panen padi. Seperti halnya kenduri selamatan atau kondangan di Padukuhan Bendo, Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, selalu diadakan di Petilasan Sumur Kyai Suto Langi.

Prapto Suwarno sesepuh sekaligus pemangku budaya mengatakan, bahwa kondangan tersebut adalah budaya turun temurun yang tidak bisa ditinggalkan dan harus dilestarikan.

“Virus Corona yang mewabah saat ini, tak boleh melunturkan budaya warisan leluhur yang sudah turun temurun” jelas Prapto.

Puluhan bahkan ratusan warga datang ke sumur atau salah satu sumber air petilasan dengan membawa masakan berupa, nasi tumpeng beserta lauk pauknya.

Kenduri tersebut selanjutnya dido’akan oleh sesepuh setempat bertujuan memohon kepada sang pencipta, agar senantiasa diberikan kesehatan serta rejeki panen yang melimpah.

Meskipun musim pandemi, Prapto menambahkan, warga tetap menjalankan tradisi. Warga meyakini dengan sedakah, meraka akan terhidar dari marabahaya maupun wabah Covid-19 saat ini.

Pada kesempatan itu, Prapto juga menginformasikan, bahwa Setelah upacara kenduri selesai, akan dilanjutkan tanggapan ledek semalam suntuk di Padukuhan Bendo, Kalurahan Beji.

Di tempat yang sama, Gunawan Dukuh Padukuhan Bendo menambahkan, bahwa tradisi bersih sumur tetap berjalan dan mematuhi protokol kesehatan.

“Warga tetap diimbau mengenakan masker dan cuci tangan,” ungkapnya. (BJH/Red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.