CAMPURSARI KLASIK DI AMBANG KEHANCURAN

500

WONOSARI-MINGGU KLIWON | Ini artikel berdasarkan fakta, berangkat dari dugaan, bahwa menghancurkan kebudayaan itu sama dengan menghancurkan jati diri sebuah bangsa.

Tidak menutup kemungkinan ada fakta baru yang bisa mematahkan asumsi di atas, dengan argumen yang kokoh untuk memperkaya literasi.

Saya harus memulai dari era kekuasaan para raja tempo dulu, yang wawasan kebudayaannya hampir tak tertandingi.

Jayabaya Raja Kediri memerintah tahun 1135 hingga 1157. Dihimpun dari berbagai sumber dia adalah penganut agama Hindu. Patut diduga Jayabaya ini mewarisi ajaran Hindu yang masuk ke Nusantara pada ke-4. Sebagaimana diketahui, awalnya agama Hindu berkembang di Kutai Kertanegara Kalimantan, kemudian berlanjut ke Tarumanegara kerajaan Hindu tertua di Jawa, yang posisinya di Lebak Banten.

Sebagai raja sekaligus pujangga besar, Jayabaya memiliki ketajaman wawasan yang luar biasa, bahwa menghancurkan sebuah bangsa tidak harus diperangi secara fisik tetapi cukup melalui penyusupan kebudayaan.

Itulah makna ucapan Jayabaya ‘Wong Jowo Kari Separo’, yang banyak dikenal sebagai sebuah ramalan, padahal sesungguhnya itu adalah satu kekhawatiran besar Jayabaya atas hancurnya kebudayaan Jawa.

Jauh sebelum Prabu Jayabaya berkuasa, pada abad ke-2 manusia Jawa telah mengenal teknologi tinggi pada masanya. Manusia Jawa telah mampu menciptakan gamelan yang bahan bakunya adalah biji besi juga perunggu yang bertahan hingga kini.

Menjauhkan kebudayaan asli dari masyarakat, kemudian mengganti atau menyusupkan kebudayaan baru sama saja dengan menghilangkan jati diri manusia Jawa.

Campursari Klasik yang digagas mendiang Manthous seniman asal Kapanewon Playen Gunungkidul adalah fakta paling anyar, mengenai seberapa jauh upaya penghancuran kebudayaan Jawa yang dilakukan justru oleh para pelaku seni Campursari, di luar kesadaran mereka.

Mendiang Manthous masih relatif setia pada seni klasik gamelan. Dia mencoba sedikit berimprovisasi dengan alat musik organ untuk menyempurnakan garapan seni coke’an yang hampir punah.

Campursari setelah Manthous, kelembutan dan kehangatannya telah lenyap. Alasan para pelaku adalah untuk memenuhi selera penonton. Ini memperteguh paham seni untuk rakyat, seperti zaman Lekra tempo dulu.

Ketika Campursari telah masuk ke dunia industri, di situlah ambang kehancuran budaya Jawa mulai terasa. Salah satu yang nampak nyata, para pelaku mengenakan bebet, blangkon, keris, tetapi alas kaki bukan selop melainkan sepatu, karena bebetnya tidak sempurna, mereka juga mengenakan celana panjang.

Menikmati Campursari, saat ini tidak lagi nyamleng, karena musiknya serba keras. Jawanya Jawa keras, Jawa Rock and Roll.

Bukan kebetulan, Kundha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan Gunungkidul, kalau tidak meleset, Akhir Juli 2021 masih mencoba setia melaksanakan festival campursari klasik. Apa benar acara itu adalah tonggak kebangkitan aliran klasik atau malah menenggelamkannya perlu ditunggu kiprahnya. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.