Kelangkaan air yang rutin di setiap musim kemarau seharusnya tidak membuat warga Gunungkidul putus asa – mengeluh dan rutin menunggu bantuan/ droping air dari BPBD maupun bantuan dari kelompok masyarakat.
Satu catatan khusus, kelangkaan air tidak perlu didramatisir dan dibesar-besarkan, juga tidak perlu menjadi pemberitaan media (elektronik/ cetak) secara berlebihan.
Rakor JJLS Lahirkan Lima Keputusan, Rakyat Terbuka Memberi Masukan
Catatan saya yang lain, banyak yang kemudian silih berganti menyumbang kemudian “swafoto/selfie” dengan warga. Hal seperti itu menurut saya tidak begitu relevan. Yang paling penting mesti kita sadari ialah, bahwa kelangkaan air merupakan peristiwa alam yang setiap musim kemarau terjadi di manapun.
Oleh karena itu inti tulisan ini sekedar mengingatkan, bahwa janganlah kelangkaan air yang terjadi setiap musim kemarau dijadikan ajang untuk selalu dan selalu mengharap droping air tanpa upaya yang mengarah ke pemecahan persoalan.
Kita yakin, bahwa banyak sungai bawah tanah yang dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi bagi seluruh warga Gunungkidul secara adil dan merata. Bantuan berupa droping air sebaiknya cukup menjadi beban APBD (BPBD) dan bantuan dari masyarakat.













