DEBAT CALON PRESIDEN BISA MENIRU DEBAT GAYA NABI IBRAHIM

835

KPU rasanya masih akan mengadu Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden di layar Tv nasional.

Bagi sebagian rakyat agenda tersebut sesungguhnya tidak begitu menarik. Tetapi jika pasangan calon berani menduplikasi gaya debat Nabi Ibrahim As nuansanya bisa berbeda.

Bukan isapan jempol. Empat belas abad silam ditunjukkan pelajaran berharga bagi seluruh umat manusia.

Seseorang mati karena kehendak Allah SWT selama 100 tahun. Tetapi tidak sedetik pun dia tinggal kuburan.

Ini satu catatan menakjubkan yang ada di dalam Al-Baqarah Ayat 259.

Sebelum peristiwa 259, ayat 258 menjelaskan bahwa orang-orang kafir linglung ketika berdebat dengan Nabi Ibrahim As.

Dia (Nabi Ibrahim) bilang, Tuhanku menerbitkan matahari dari timur, coba kalian terbitkan matahari itu dari barat. Orang-orang tak beriman tersebut bungkem, terkunci tidak bisa menjawab karena tidak mendapat petunjuk.

Kebingungan mereka digambarkan seperti seseorang melihat suatu negeri, yang bangunannya roboh, hancur porak poranda.

Orang tersebut bertanya, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”

Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.

Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?”

Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.”

Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang)

Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia.

Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging.”

Maka ketika telah nyata baginya, orang itu berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Manusia moderen sedikit yang mau mengambil pelajaran dari peristiwa Al-Baqarah 258 dan 259.

Fakta tersebut apa ada hubungannya dengan debat calon presiden dan wakil di tahun 2024? Tentu ada karena debat gaya Nabi Ibrahim As dijiwai petunjuk, disinari cahaya yang bukan api.

Analoginya, Kandidat calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang tidak memperoleh petunjuk bakal bingung, dan terkunci, serupa orang yang berdebat dengan Nabi Ibrahim As.

Esensi petunjuk seperti Gus Miftah katakan dalam berbagai ceramahnya, bahwa menungsa ki ora isa apa-apa, tetapi nek Gusti Allah SWT apa-apa isa.

Maka dari itu, pesan Gus Miftah, mintalah cahaya atau petunjuk kepadaNya, supaya semua terang benderang.

Mengutip pikiran Imam Al Gazali, debat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden perlu diiringi upaya menegakkan jiwa Agama, supaya disinari cahaya. Debat tanpa cahaya semua omong kosong.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.