WONOSARI – Selasa Pon | Sebagian tanah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan awalnya adalah dasar laut yang terangkat karena kekuatan endogen.
Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul Senin, 23 Desember 2019 di depan sejumlah awak media melakukan upaya bedah batu, laiknya merunut sejarah terjadinya Gunung Sewu.
KALI NGALANG JEJAK GEOLOGI 16 JUTA TAHUN LALU
Monumen Geopark yang ada di Kawasan Ngingrong, Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, selama ini dimaknai sebagai subyek pariwisata, padahal kondisi yang sesungguhnya bukan seperti itu.
Budi Martono, mantan Sekda Gunungkidul membeberkan banyak hal, saat diminta memaparkan kaitan antara Pusat Informasi Kegeologian (PIK) yang dibangun di bekas Kantor Kecamatan Patuk dengan Monumen Batu yang berdiri di Kawasan Ngingrong.
“Geopark, bukan ranah pariwisata,” ujar Budi Martono mengawali paparan didamping Hari Sukmono, Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, (23/12/19).
Geopark menurutnya lebih dekat dengan ilmu kegeologian. Soal kepariwisataan kemudian menjadi seolah-olah dominan, itu karena gebyah uyah, alias keliru sudut pandang dan penekanan.
Budi Martono bertutur soal proses terjadinya Gunung Sewu.
Memang, kata dia, belum terdeskripsi secara detail dan ilmiah, tetapi menurutnya, dua puluh (20) jenis bebatuan yang dikumpulkan di museum batu Ngingrong menyimpan banyak cerita menarik.
Budi Martono, mantan Sekda Gunungkidul yang kini mulai belajar menekuni seluk beluk kegeologian, menyatakan, pegunungan sewu terbentuk karena kekuatan endogen.













