GUNUNGKIDUL: SATRIA BINELAH, DRAMA POLITIK 2024

1338

WONOSARI-SENIN PAHING | Masyarakat Jawa begitu akrab dengan istilah wiji ratu. Menurut beberapa pengamat, ini adalah pengaruh kebudayaan Hindu.

Pengaruh dari mana dan dari apa pun tidak jadi masalah, karena manusia pada dasarnya menjalani proses perjalanan dan pergaulan hidup.

Dalam kisah kepahlawanan Barata Yudha, Raden Abimanyu dikenal sebagai wiji ratu, karena putra Raden Arjuna itulah yang kuat menduduki dampar kencana peninggalan Begawan Palasara.

Raden Parikesit keturunan Abimanyu adalah penerus trah satria Pandawa, usai perang besar di Tegal Kuru antara darah Pandawa melawan Kurawa.

Dalam dunia nyata, warga Gunungkidul sepertinya juga meyakini adanya wiji ratu (bupati) tersebut, atau setidaknya digiring ke arah lokasi wiji ratu alias wiji bupati.

Stigma wiji bupati sengaja diciptakan masyarakat hanya di antara dua Kapanewon yakni Ponjong serta Nglipar.

Calon Bupati dan Wakil Bupati 2021-2024 dalam pilkada 2020 tempo hari, Sunaryanta (dari Nglipar) dan Heri Susanto (dari Ponjong), saat dilaksanakan pilkada, dua orang wiji ratu itulah yang faktanya memenangkan kompetisi.

Wiji Ratu dalam khasanah politik tidak dikenal, atau tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, tetapi dari sisi kebatinan hal itu nyata terjadi.

Betapa seru pertandingan empat pasang calon tahun 2020 kala itu, bahwa dengan berbagai cara dan upaya, lokasi wiji ratu ada di pihak pemenang yang saat ini berkuasa.

Tiga tahun berkuasa Sunaryanta dan Heri Susanto kabarnya ingin mengulang kompetisi, karena satuan waktu yang dijalani untuk melakukan perubahan di pemerintahan terlalu pendek.

Secara batiniah sepanjang mereka berdua maju, siapa pun rivalnya bakal banyak menghadapi kendala. Tetapi beda halnya jika Sunaryanta berpisah dengan Heri Susanto, lokasi wiji ratu otomatis terbelah.

Kalau itu sempat terjadi, seorang Cenayang menyebutkan bahwa bakal terjadi peristiwa Satria Binelah. Artinya Sunaryanta akan kalah pada kompetisi Pilkada untuk yang kedua kalinya, meski mengeluarkan ongkos politik besar.

Peristiwa serupa pernah terjadi ketika Suharto berpisah dengan Hj. Badingah dalam Pilkada 2010-2015.

Penerawangan mata batin Cenayang itulah yang kemudian mengilhami munculnya artikel pendek bertajuk Satria Binelah.

Tentang kekalahan Sunaryanta karena berpisah dengan Heri Susanto sesungguhnya tidak begitu penting. Alasannya, semua itu bisa saja terjadi dan tidak terjadi, Allahu a’lam bishowab.

Satria Binelah merupakan manifestasi demokrasi warga Gunungkidul dalam Pilkada Rabu Pon 14 Februari 2024.

Artinya begini, warga Gunungkidul perlu membuat penilaian cerdas dalam menterjemahkan hasil karya Satria Sunaryanta dan Satria Heri Susanto dalam masa tiga tahun menjalankan pemerintahan.

Sepanjang warga Gunungkidul salah menilai, kemudian terperangkap dalam bujuk rayu duit Rp 100, hingg Rp 300 ribu, maka Bumi Handayani akan menjadi dagangan demokrasi super murah.

Dan Mitos Wiji Ratu itu pun akan menjadi dagangan tak bermakna. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.