Jadi Dosen Tanpa Sekolah, Petani di Gunungkidul Diundang Ke Istana Negara

6829

PATUK-KAMIS PON | Menjadi Dosen Tamu di beberapa Universitas, Suratimin (62) warga Padukuhan Salak, Kalurahan Semoyo, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, mengaku tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Meski demikian, sejumlah penghargaan berhasil ia raih.

Hal tersebut diungkapkan Suratimin kepada infogunungkidul.com di kediamanya, Rabu (31/01/2024).

Bapak dari dua anak ini mengaku, sejumlah prestasi yang ia raih berawal dari keikutsertaannya sebagai Pegiat Lingkungan Hutan Rakyat hingga mendapatkan Penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat itu Suratimin bercita-cita bagaimana masyarakat dapat mengelola hutan rakyat untuk meningkatkan ekonomi.

Lantaran menjumpai barbagai kendala, Suratimin kemudian memutuskan untuk bergeser di bidang pertanian pangan karena ia beranggapan bahwa pangan merupakan kebutuhan pokok yang setiap hari dibutuhkan.

Selaku Ketua Kelompok Serikat Petani Pembaharu, Suratimin memilih sistem tanam tumpang sari yang dinilainya lebih efektif.

“Dalam satu lahan kami tanam timun, cabe, jagung, ketela dan untuk buahnya ada pete, buah naga, avokat serta jambu biji,” ujarnya.

Untuk mentimun, bapak dua anak ini lebih memilih menanam jenis timun lalapan atau yang lebih dikenal timun baby karena dinilai lebih efektif.

Dengan luas lahan 3000 meter persegi ia hanya membutuhkan satu bungkus benih mentimun seharga 50 ribu.

“Modal benih 50 ribu bisa menghasilkan 3 juta dalam sekali panen,” jelasnya.

Sementara untuk jarak tanam, Suratimin menggunakan jarak 50×50 Cm dengan harapan tanaman tidak kekurangan nutrisi sehingga diharap dapat membuahkan hasil yang maksimal.

Selaku Ketua Kelompok Serikat Petani Pembaharu, Suratimin mengajak seluruh anggota kelompok untuk meminimalisir tengkulak agar dapat memiliki pasaran tersendiri.

Saat ini hasil panen tanaman tumpang sari milik Suratimin banyak memenuhi pesanan di sejumlah pasar di wilayah Yogyakarta.

“Untuk buah-buahan saya bawa ke dinas-dinas di Jogja, sedangkan timun saya kirim ke pasar-pasar,” jelasnya.

Berkat kesuksesanya dalam mempertahankan kebutuhan pangan, Suratimin mengaku sering diundang menjadi Dosen Tamu di beberapa universitas antara lain UGM, INSTIPER, UNY, dan beberapa universitas lainya.

Selain itu, Suratimin juga mengaku pernah dipanggil orang nomer satu di Indonesia bahkan tak hanya satu kali.

“Dipanggil Jokowi dua kali, SBY satu kali, sering juga saya dikira lulusan SI,” pungkasnya.

(A Yuliantoro)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.