GUNUNGKIDUL-JUMAT PAHING | Di Gunungkidul berkembang budaya yang asal-usulnya tidak jelas, dan penciptanya pun anonim, tetapi memperoleh tempat terhormat. Sebut saja itu misalnya aksi anak muda dalam pawai yang memperagakan komunitas waria.
Sementara karya budaya warisan Raja Surakarta yang berkuasa di tahun 1830 hingga 1858 dan itu bermanfaat di bidang pertanian justru diabaikan. Contohnya kalender Pranatamangsa.
Ini pandangan kritis. Butuh dukungan para intelektual, mengingat keistimewaan yang dicanangkan di DIY hakekatnya bukan slogan kosong, tetapi ruh yang menjiwaragai setiap insan Bumi Handayani.
Pertanyaan sederhana, mengapa budaya kontemporer yang tidak memiliki nilai diapresiasi, tetapi karya klasik diabaikan dan ditinggalkan.
Drs. Daldjoeni, penulis buku Manusia Penghuni Bumi yang dihimpun dalam Bunga Rampai Geografi Sosial menyatakan, Kalender Pranatamangsa Jawa tidak diajarkan di sekolah (1986: hal. 57).
Tidak disadari, bahwa Pranatamangsa adalah karya besar raja Surakarta putra bangsa, sejaman dengan pujangga Rangga Warsita.
“Tahun 80-an kurikulum sekolah berkiblat pada pembangunan pedesaan, tetapi guru ilmu bumi lebih suka menyuruh murid-muridnya menghafal tanggal awal dan akhir 4 musim di Eropa,” ujar Dldjoeni.
Petani desa, yang pernah mengenyam pendidikan Barat, tidak tahu tentang kalender Jawa Pranatamangsa ciptaan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana Ke-VII.
Sedikit saja petani generasi tua Gunungkidul yang hafal di luar kepala mengenai siklus pranatamangsa.
Perhitungan pranatamangsa yang diperkenalkan pada masa Sunan Pakubuwana VII, Raja Surakarta itu mulai digunakan sejak 22 Juni 1856, dua tahun belum raja mangkat. Tujuannya agar menjadi pedoman para petani pada masa itu dan seterusnya.
Pranata Mangsa artinya ketentuan musim. Ini merupakan sistem penanggalan yang dikaitkan dengan aktivitas bercocok tanam dan penangkapan ikan.
Kalender Pranata Mangsa disusun berdasarkan peredaran matahari. Siklusnya setahun dalam hitungan 365 hari atau 366 hari.
Pakubuwa Ke-VII yang nama kecilnya adalah Malikis Solikin merilis pranata mangsa, supaya menjadi pedoman kerja bagi petani dan pemangku kepentingan atas produksi pertanian.
Pranata mangsa versi Kasunanan, tulis Wikipedia, banyak dianut petani di wilayah Mataram.
Tahun 2023, kalender tersebut oleh sebagian besar warga Gunungkidul ditinggalkan karena dianggap ramalan yang tidak tepat dan tidak relevan.
Pada dekade 60-an, Nata Giyana, seorang ulu-ulu Desa Putat Kapanewon Patuk masih berpegang teguh pada hitungan Pranatamangsa. Dia merasa tidak bisa lepas dari perputaran mongso maring rendeng labuh dan ketiga. Dalam bercocok tanam notogeyono menggunakan skema yang diwariskan oleh Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Ke-7. Bagaimana dengan petani modern zaman milenium?
(Bambang Wahyu)













