Karang Taruna dan Pokdarwis Dilatih Pranatacara

132

WONOSARI – KAMIS LEGI | Sebagai upaya regenerasi, Dinas Kebudayaan (Disbud) atau Kundha Kabudayan Gunungkidul, melakukan Pelatihan Pranatacara, di Balai Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidu Kamis, (17/09/20).

Kabid Sejarah, Bahasa, dan Sastra Disbud Gunungkidul Sigit Pramudyanto mengatakan, kegiatan ini bukan pelatihan pranatacara atau pembawa acara (MC) biasa. Peserta, yang hadir dilatih untuk menjadi pembawa acara berbahasa Jawa dengan pakaian lengkap adat formal.

“Sebanyak 32 peserta yang sebagian besar berusia muda mengikuti pelatihan yang digelar sejak 15 September lalu,” katanya, pada Kamis (17/09/2020) siang.

Sigit menambahkan, bahwa mereka merupakan perwakilan karang taruna hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dari seluruh pedukuhan di Bejiharjo.

Lebih lanjut, Sigit juga menjelaskan, pelatihan ini dilakukan sebagai upaya regenerasi.

Sebab menurutnya, sebagian besar pembawa acara bahasa Jawa di Gunungkidul sudah berusia tua. Hal ini bisa menyebabkan pranatacara bahasa Jawa semakin langka.

“Pelatihan ini sekaligus pembinaan bahasa dan Sastra Jawa sebagai upaya pelestarian budaya,” jelasnya.

Kalurahan Bejiharjo menjadi lokasi pertama pelatihan pranatacara tahun ini, dijelaskan Sigit, lantaran statusnya sebagai desa budaya.

“Menyesuaikan situasi saat ini, pelatihan juga dilaksanakan dengan protokol kesehatan Covid-19,” ucapnya.

Sementara itu Sujarwo selaku penanggungjawab acara dari Kalurahan Bejiharjo mengatakan, pelatihan ini sebagai upaya peremajaan. Sebab di Bejiharjo sendiri kebanyakan pranatacara bahasa Jawa sudah berumur. Peserta yang hadir di sini pun juga sebagian besar belum memiliki pengalaman sebagai pembawa acara.

“Selama 3 hari pelatihan ini, seluruh peserta akan mendapatkan materi secara lisan dan tulisan, pada hari terakhir ini tiap peserta mencoba tampil untuk menjadi pembawa acara, sembari dinilai penampilannya,” katanya.

Menurut Sujarwo, pelatihan ini jadi modal awal peserta untuk menjadi pembawa acara dalam kegiatan apa pun. Mulai dari pernikahan, syukuran, hingga hajatan tingkat pedukuhan.

“Jadi ilmu dari pelatihan ini bisa digunakan sesuai kebutuhan, terutama yang menggunakan adat Jawa secara formal,” ucapnya. (Hery)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.