Kondisi Tak Menentu UMKM Mulai Khawatir

218

WONOSARI-KAMIS WAGE | Usaha camilan keripik tak asing bahkan telah merata di Kabupaten Gunungkidul. Usaha pembuatan makanan ringan ini kebanyakan dikelola oleh pengusaha mikro kecil menengah (UMKM). Hasil produksi biasanya dipasarkan di toko-toko kelontong serta pasar lokal.

Salah satunya Sumiyati, warga Butuh, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari. Pelaku UMKM ini mengungkapkan, di tengah pandemi produksi kripiknya mengalami penurunan.

Sebelumnya, setiap bulannya ia mampu menghasilkan rata-rata Rp 3,5 juta hingga Rp. 4 juta. Namun saat ini, ia hanya mampu menghasilkan Rp 1,8 juta saja.

INFO HARI INI – RATUSAN FASILITAS PANTAI HANCUR PASCA DITERJANG GELOMBANG TINGGI

“Berbagai produksi jenis kripik seperti, kripik pisang, kripik tempe, peyek juga kripik manggleng, tergantung banyaknya bahan atau pesanan, terkadang sehari bisa membuat hingga 180 bungkus, harganya kalau perkemas Rp 10 ribu,” katanya, saat ditemui di rumahnya pada, Kamis (28/05/2020).

Ia menambahkan, dengan adanya krisis Pandemi corona ini, membuat usahanya menurun drastis. Bila situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin sektor lainnya akan terus menurun dan krisis yang makin parah akan melanda dunia usaha dan sektor usaha lainnya.

“Karyawan saya ada 10, tapi di tengah pandemi ini, banyak toko yang telah tutup juga, membuat loper kita terhambat, jadi kita mengurangi produksi. Biasanya dalam seminggau 4 kali, tapi sekarang hanya 2 kali saja. padahal biasanya terdapat 5 toko yang kami loper, kini hanya 2 sampai 3 toko saja,” tandasnya. (Hery)

INFO HARI INI – GELOMBANG TINGGI, SEJUMLAH FASILITAS RUSAK




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.