MANUSIA BERHARAP PANDEMI BERDURASI PENDEK: TUHAN MAU DIPAKSA

1156

PATUK-KAMIS LEGI | Tahun 1962, Pak Ngatima Guru SD Negeri Bunder II, mengajari murid-muridnya melantunkan tembang bertajuk Tangis Layung-Layung. Inti nyanyian Jawa itu merupakan tangisnya orang yang takut mati.

“Ana tangis layung-layung. Tangise wong Wedi mati. Gedhangana kuncenana, ora wurung angemasi,” begitu sepotong tembang yang diajarkan Pak Guru Ngatimo warga Nglampar, Nglegi, Patuk, Gunungkidul.

Tahun 2021 tangis layung-layung itu kembali berkumandang dalam format baru. Banyak orang takut mati karena pandemi.

Gedong yang diandalkan adalah vaksin dan protokol kesehatan super ketat. Antisipasi pandemi, kata para ahli bisa ditangkal hanya dengan prokes yang ketat. Banyak pihak tidak yakin omongan para ahli itu tepat.

Vaksinana prokesana, ora wurung akeh pralaya lan akeh pepati. Esuk lara sore mati, sore lara esuk tumekeng pejah #pageblug.

Lalu bagaimana? Manusia harus berhenti dari sikap menyombongkan diri, kata Sam Bimbo dalam tembang yang bertajuk Corona yang dipersembahkan untuk BNPB.

“Corona datang Tuhan mencuci dunia membungkam kesombongan manusia,” begitu Samsudin Hardjakusumah alias Sam Bimbo membuka tembang minor yang dirilis pada pertengahan 2020 silam.

Tempat ibadah semuanya ditutup, demikian Bimbo meneruskan lagu melankoliknya, manusia bingung cari pegangan.

Fakta di lapangan pegang jarum vaksin keliru, pegang prokes gak ada bukti bisa melawan ciptaan Tuhan selembut virus. Mau berpegang ke apa lagi?

“Corona datang bukanlah kebetulan. Mendidik kita untuk jadi salah,” ujar Bimbo.

Anak dan istri jabatan kekayaan semua itu bukan milik kita.

Angan dan raga teguhkan hati kami, Ya Tuhan selamatkan kami.

Bimbo mengajari manusia untuk menangis, tetapi yang terjadi para pejabat malah pada berebut materi jatah bagi orang-orang yang terancam maut.

Durasi Corona masih cukup panjang. Sampai pada waktunya manusia kehilangan kerabat dan menyaksikan mayat seperti sampah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Lalu mereka benar-benar dimusnahkan oleh suara yang mengguntur, dan Kami jadikan mereka (seperti) sampah yang dibawa banjir. Maka binasalah bagi orang-orang yang zalim.” (Al-Mu’minun, Surat ke-23: Ayat 41) (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.