PATUK, MINGGU PAHING-Badai Cempaka 28 November 2017 silam meruntuhkan jembatan gantung Padukuhan Jelok, Beji, Patuk, Gunungkidul. Warga tidak sabar menunggu perhatian Pemerintah. Dibantu donatur, secara swadaya merekonstruksi jembatan goyang yang hanyut terbawa banjir bandang.
Kamidi, ketua pelaksana dalam laporannya menyebutkan, pengerjaan pemulihan jembatan memakan waktu 67 hari, dimulai 2 September 2017, selesai 7 November tahun yang sama.
“Jembatan darurat itu menghabiskan biaya sebesar Rp 68.871.000,00,” ujar Kamidi di depan Bupati Gunungkidul, (18/11).
Selebihnya, Kamidi menyampaikan, tanpa bantuan para donatur, jembatan Jelok tidak mungkin berdiri kokoh seperti semula. Menurutnya, kekhawatiran, bahwa warga Jelok terisolasi di musim hujan 2019 telah teratasi.
Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, usai meresmikan jembatan darurat meminta maaf kepada warga Jelok. Alasanya, dia tidak bisa merespon cepat kebutuhan warga.
Dia mengaku banyak menerima keluhan melalui SMS, Whatsapp, bahkan telepon soal lambatnya penanganan jembatan Jelok.
“Hati saya menjerit, bahkan menangis,” ungkap Badingah di depan warga.
Bulan yang bersamaan dengan rehabilirasi jembatan, tepatnya 7 September 2018, Bupati mengaku menandatangani penerimaan dana hibah di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Paling lambat awal Februari 2019 warga Jelok akan memiliki jembatan permanen senilai Rp 13,5 milyard. Begitu pula warga Wonolagi, Desa Pengkok. Mereka menerima hibah Rp 22,5 milyard,” pungkas Badingah.
Hadir dalam peresmian jembatan darurat, wakil ketua DPRD Gunungkidul, Ngadiyono, salah satu donatur, Mayor Sunaryanta, muspika Patuk, Kades Beji, Dukuh dan warga setempat. (Agung)













