WONOSARI, MINGGU PAHING – Ketua DPW Partai Masdem DIY, H. Subardi menilai, partisipasi politik masyarakat Kabupaten Sleman kini menyerupai sampah. Penduduk berjubel, partisipasi politik rendah, jauh berbeda dibandingkan dengan Gunungkidul.
Hal itu disampaikan pada kesempatan jumpa pers, Sabtu siang (17/11) di Rumah Makan Ayam Geprek, jatung kota Wonosari.
Warga Sleman susah diajak mengembangkan daerah melalui saluran politik legal formal. Satu hal yang menurut H. Subardi menyebabkan hal itu terjadi. Penduduk potensial besar, kata dia, tetapi sebagian adalah pendatang. Satu juta lebih, yang asli Sleman tidak genap 500 ribu. Peradaban serta budaya mereka pun lebih individualistik. Sebagian besar tidak mengenal gotong royong.
Awak media, menurutnya bisa cek, bahwa Depok, Mlati, Ngaglik dan sekitarnya adalah area rumah kost yang penghuninya adalah pendatang. Subardi berkeyakinan, dalam pileg 17 April 2019, pendatang tidak akan memilih caleg daerah.
Di atas kertas Sleman berpenduduk besar, tetapi partisipasi politik rendah karena separuh atau bahkan lebih, mereka tidak menggunakan hak politik di Kabupaten Sleman. Berbeda jauh dengan Gunungkidul, jumlah pemilih belum pernah lebih dari 700 ribu, tetapi mentes (berisi), bukan hanya sampah.
Warga Gunungkidul konsisten memelihara nilai gotong royong. Partisipasi politik mereka cukup tinggi. Dilihat dari sisi SDM, menurut H. Subardi, wong Gunungkidul lebih siap diajak mekakukan restorasi (perubahan) yang kini gencar dilakukan Partai Nasdem.
Itu sebabnya H. Subardi lebih banyak berkeliling Gunungkidul ketimbang di Kabupaten tempat di tinggal. (Agung)













