Oleh: (Bambang Wahyu)
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku
yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya.
Bait kedua kerap diserukan, tetapi tidak dipraktekkan. Indikasinya cukup jelas.
Para elit partai politik saling sikut saling rebut elektabilitas, saling sindir soal politik identitas.
Saling menjatuhkan satu sama lain. Jauh dari saling rangkul tanda persaudaraan.
Di mediasosial pemutusan hubungan silaturahmi lebih dikedepankan. Sementara mereka sama-sama hidup di Bumi Pancasila.
Para doktor juga profesor sulit menahan emosi. Mereka justru suka membakar serta mengadu domba
Yang mengaku ahli bikin survey, yang sejatinya tidak lebih dari tukang cari duit lewat karya statistik untuk kepentingan menambah ketamaan, bermunculan di setiap ada pesta demokrasi. Karya mereka menyulut permusuhan, bukan menghidupkan kemesraan.
Itu semua masih ditambah sejumlah karya jurnalistik yang tidak menyejukkan, karena tulisan dilatarbelakangi suka dan tidak suka.
Pungkasannya seruan itu berusaha 180⁰ menjadi:
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersetru













