Petani Muda Gunungkidul Butuh Wadah Dalam Format Forum Komunikasi

1591

WONOSARI-SABTU WAGE | Petani Gunungkidul rata-rata telah berusia uzur, sementara generasi penerus terbilang masih terlalu sedikit. Meski demikian mereka bertekat menggantikan pendahulunya dengan berbagai cara. Sugeng Apriyanto menyebutkan petani muda dengan label petani milenial modalnya harus tiga perkara.

“Pertama harus ada daya tanggap, kedua harus ada daya pikir dan ketiga harus ada daya tahan,” ujar Sugeng dalam pertemuan terbatas di Warung Soto Lor Pasar Pitik Wonosari Jum’at 20-8-2021 yang dipandu Wibowo Purno Katoyo, STP, M.Si. Kasi Ketenagaan Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Pangan Gunungkidul.

Menurut catatan Wibowo Purno, petani milenial yang tercatat dalam register Dinas Pertanian Pangan baru 247 personil. Dibandingkan dengan jumlah pemuda di Gunungkidul, belum seberapa banyak, tetapi 247 petani milenial cukup menjadi pemantik bagi pemuda lainnya.

Di depan Ketua KTNA Gunungkidul, Slamet S.Pd. MM dan beberapa petani milenial Sugeng Apriyanto, Agung, Wahyu, Umi, juga Nur tenaga Penyuluh, Wibowo menekankan pentingnya forum komunikasi antar petani milenial yang tersebar di 18 Kecamatan 144 Desa.

Selaku inisiator sekaligus fasilitator pertemuan Ketua KTNA Gunungkidul, Slamet, A.Pd. MM mendesak agar forum komunikasi antar petani milenial segera dibentuk.

“Tidak perlu ditunda-tunda. Alasannya dunia pertanian menunggu tangan terampil, demi kesejahteraan bersama. Bidang pertanian adalah bukti kongkrit, bahwa di masa wabah Covid-19 produksi tidak terpengaruh sedikit pun,” tegasnya.

Pertemuan tatap muka tokoh petani milenial tidak yang lebih dari 120 menit itu mengamini terbentuknya forum komunikasi, agar gerakan petani muda lebih terorganisir, tidak berjalan sendiri-sendiri. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.