WONOSARI, SELASA PAHING – Niat Jojowi, masuk istana negara untuk yang kedua kalinya dihalangi habis-habisan. Prabowo berfikir keras menggapai energi (cahaya) yang terceri berai dalam pikiran tokoh politik PKS, PAN, Demokrat, PBB, Berkarya dan yang lain.
Prabowo berfikir, Indonesia dikelola secara keliru, sehingga negeri yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi, hanya dinikmati oleh segelintir elit, tidak pernah merata ke seluruh warga negara.
Terlihat, Prabowo sedang merunut seruan: Wahai jiwa yang tenang kemblilah kepada Tuhanmu dengan senang dan disenangi.
Kembali kepada Tuhan (sebagai sumber kekuasaan), identik dengan berbalik ke shiroothol mustaqiim (jalan yang lurus).
Prabowo sedang bekerja keras mamadukan cara berfikir yang berladaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai mana termaktub di dalam sila pertama ideologi negara kesatuan Republik Indonesia.
“Kalau (tahun 2019) ada calon presiden yang lebih baik, saya rela menjadi alat perjuangan,” ungkap Prabowo Subianto di depan para ulama, Jumat malam (27/07).
Dalam konteks membangun negara, Prabowo Subianto ingin, Indonesia menjadi baladil amiin (negara yang aman).
Prabowo Subianto bertekad mengembalikan kekuasaan dengan senang (demokratis) dan disenangi (dikehendaki) rakyat. Itu tidak ada jalan lain kecuali dia dan sekutunya melawan, mengalahkan Jokowi.
Tekad Prabowo Subianto menuju pilpres 17 April 2019, ditentukan dalam tempo sepekan, 4 Agustus hingga 9 Agustus 2018.
Gagal menyatukan cahaya, gagal pula Prabowo Subianto menghadang Joko Widodo. (Bambang Wahyu Widayadi)













