WONOSARI-Rabu Wage | CB Supriyanto, Ketua Dewan Kebudayaan dan Agus Kamtono Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul menanggapi kebiasaan berebut makanan pada proses Keduri Rasulan. Kedua pejabat tersebut memiliki tafsiran yang berbeda.
Dalam konteks Kenduri Rasulan, rebutan makanan yang dilakukan Warga Ngalang, Gedangsari, dan warga Pengkol, Nglipar, menurut CB Supriyanto terselip makna filosofi.
“Itu pelajaran Ngalap Berkah. Maksudnya diyakini kalau bisa ikut ambil makanan, kelak akan mendapatkan rezeki lebih,” paparnya, (3/7).
Dia menambahkan, Ngalap Berkah, yang direbut awalnya berupa benih tanaman. Karena adanya di satu titik dan sudah didoakan, kalau tidak berebut tidak kebagian.
Penjabaran fenomena rebutan makanan berbeda dengan Agus Kamtono. Kepala Dinas Kebudayaan ini menyatakan, titik pandang bukan terletak pada rebutan makanan, tapi sisi sodakoh.












