Selamatkan Batik Khas Bobung Masa Pandemi

176

PATUK-RABU PON | Masa pandemi berdampak besar bagi sejumlah sektor pariwisata, bahkan tak sedikit pengusaha gulung tikar akibat Covid-19. Beberapa dari mereka mencoba untuk dapat bertahan.

Di Kalurahan Patuk, Kapanewon Patuk, misalnya wilayah yang identik dengan pariwisata Gunung Api Purba Nglanggeran.

Selain Wisata Nglanggeran, di wilayah Kapanewon Patuk, khususnya di Padukuhan Bobung dan Batur, banyak dijumpai pengusaha kerajinan.

Dua wilayah pedukuhan tersebut cukup menonjol dengan kerajinan batiknya dengan media topeng kayu.

Batik topeng kayu cukup tersohor, bahkan menjadi salah satu komoditi ekspor ke mancanegara yakni Belanda dan Amerika Serikat.

“Pandemi yang menerpa sejak setahun silam membuat distribusi kerajinan tersendat, sehingga penghasilan warga jadi berkurang, hingga akhirnya mereka terpaksa beralih ke sektor usaha lain,” kata┬áKepala Seksi (Kasi) Kesejahteraan (Ulu-ulu) Kalurahan Putat, Agus Aprianto, Rabu (07/04/2021) siang.

Menurut Agus, untuk tetap bertahan banyak warga yang akhirnya beralih ke peternakan, berdagang maupun usaha lainnya.

Kini, Agus berujar, Kalurahan Putat tengah berupaya menyelamatkan kerajinan khas tersebut. Kelompok pengrajin batik diarahkan untuk mencoba dengan media lain yang lebih konvensional.

Saat ini Menurut Agus, motif batik topeng digoreskan di kain dengan canting. Selain metode tulis, pihaknya juga mengarahkan agar motif batik topeng dibuat dengan teknik cap. Motif yang digunakan tentu ciri khas wilayah setempat, yaitu (Topeng Panji).

“Topeng Panji menjadi karakteristik paling khas dari Bobung dan Batur,” ujarnya.

Tak hanya motifnya saja, proses pembuatan topeng kayunya sendiri masih dikerjakan secara tradisional. Pengukiran hingga pembuatan motif batik sepenuhnya dibuat dengan tangan. Itulah yang membuat Batik Topeng Bobung dan Batur dinilai memiliki kualitas tinggi.

“Bisa dibilang Topeng Panji ini hanya ada di Putat, nyaris tak ada di desa lain,” jelas Agus.

Agus berharap dengan pendampingan ini, batik turun-temurun sejak tahun 1990-an tersebut tetap eksis. Sekaligus berupaya melestarikan tradisi asli warga setempat, sehingga produksi batik motif topeng ini bisa berkelanjutan. Artinya bisa memunculkan peluang usaha baru bagi warga setempat, selain membuat topeng kayu. (Heri)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.