Inilah yang disebut investasi yang bersembunyi di balik jubah pariwisata. Seorang prajurit TNI AL berpangkat Kapten berbicara blak-blakan kepada penulis, bawa Teras Kaca di Pantai Gesing itu bukan sekedar usaha pariwisata. Di balik itu semua ada skenario besar berbasis usaha pertambangan.
Negara, demikian saya menyimpulkan, sementara, gagal melindungi segenap bangsa Indonesia dan tanah tumpah darah Indonesia, seperti diamanatkan preambul UUD 1945 alinea 4.
Sanggahan mBah Bardi, politisi NasDem bahwa tidak ada orang luar yang membeli secara besar-besaran tanah di sepanjang pansela, rupanya malah makin meneguhkan angka 1.400 hektar yang diklaim BOP.
Dia menyatakan, bawa para pemilik tanah di Gunungkidul itu bukan investor. Mereka, kata H. Subardi adalah para broker. Dia mengaku tahu persis, karena para broker itu adalah rombongannya.
Menjadi sangat masuk akal, bahwa modus penguasaan tanah di Kabupaten Gunungkidul melalui para broker.
Alasan logisnya, sangat tidak mungkin warga negara asing bertransaksi secara langsung. Broker yang disebut H. Subardi itu menunjukkan betapa mengguritanya jaringan mafia tanah yang selama ini lepas dari pengawasan intelejen negara.
Berbicara masalah potensi tambang, sejak tahun1960 Kecamatan Nglipar dikabarkan ada potensi tambang mangaan.
GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON. Upacara adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala dilaksankan pada hari ini,…
GUNUNGKIDUL - MINGGU PON, Beberapa agenda kegiatan peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 terlaksana dengan…
GUNUNGKIDUL - JUM'AT LEGI, Ritual adat pembukaan Cupu Kyai Panjala di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar,…
YOGYAKARTA - SABTU KLIWON, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar serah terima jabatan Direktur Reserse Kriminal…
YOGYAKARTA - JUM'AT WAGE, PUCUK pimpinan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi berganti, setelah Kapolri…
BANTUL - KAMIS WAGE, POLISI mengungkap kasus dugaan penggelapan sejumlah barang milik sebuah toko grosir…
View Comments
Saya percaya itu akan terjadi secara total di bumi GK ini. Karena pada dasarnya orang GK itu banyak yg lapar. Kenapa bisa seperti itu ? Iya... Karena di GK sendiri nggak ada lapangan kerja yang standar. Jikalau pemerintah bisa baca situasi saat ini maka kekawatiran itu bisa di perlambat. Seperti kita tau bahwa daerah ini penuh batu kapur. Sayangnya bahan meterial itu oleh para penduduk di jual mentah. ya mereka nggak tau harus di apakan batu kapur ini selain di jual mentah. Coba kalo kita bisa bikin bahan jadi atau setengah jadi. Hasilnya pasti akan beda. Bayangkan, ketika sebuah truk membawa satu rit bahan itu. Ada berapa ton beratnya. Bandingkan kalo kita bisa mengolahnya jadi bahan jadi. Satu truk ada berapa ratus kaleng cat kalo di kemas.
Semoga kemakmuran yg ada buar warga gunung kidul.
Terlalu berlebihan