Di luar mangaan ada mitos yang terbungkus dalam cerita rakyat, bahwa potensi tambang emas ada di Gunung Emas, Padukuhan Krakalan, Desa Beji, Kecamatan Patuk, juga di sekitar Gunung Api Purba, Nglanggeran.
Pada aliran Sungai Saradan yang hulunya ada di GAP, sering ditemukan potongan kecil emas 24 karat. Ngadimin warga Putat Wetan, Desa Putat, tahun 1963 menemukan potongan emas sebesar kelingking anak. Kala itu banyak warga yang berburu emas di aliran sungai Saradan.
Cerita lain beredar di kalangan warga Duwet Karangwuni, Kecamatan Rongkop. Tahun 1980 dilakukan pengeboran tanah dengan alasan mengangkat sumber air.
“Tetapi aneh, bahwa pengeboran kala itu sebagian lumpur diambil sampel kemudian dibawa ke Jakarta. Saya yakin ini sebuah penelitian terkait isi perut bumi Kecamatan Rongkop,” ujar Bektiwibowo Suptinarso, Jum’at (13/12/19).
Uraian di atas menjadi ketemu ketika dikaitkan dengan pernyataan Presiden Jokowi. Kejayaan Indonesia, ucap Jokowi di berbagai kesempatan, akan terjadi di tahun 2045. Seabad Indonesia merdeka Nusantara akan mengalami zaman keemasan.
Istilah zaman keemasan itu sealur dengan setelah isi perut bumi Gunungkidul kemungkinan dieksplorasi besar-besaran. Eksplorasi itu untuk rakyat atau untuk orang luar, ini sebuah teka-teki.
Gunungkidul tahun 2045 menjadi milik siapa, juga sebuah kekhawatiran yang sangat mencemaskan. (Bambang Wahyu Widayadi)
PENDIRI Ikatan Wartawan Online (IWO) akan menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) perdana pada tahun 2026. Dalam…
GUNUNGKIDUL - SABTU LEGI, Pemilihan Lurah (Pilur) serentak di Kabupaten Gunungkidul telah terlaksana, Sabtu (26/09/26).…
GUNUNGKIDUL – SABTU LEGI, Polemik pembongkaran Mushola Watu Bolong Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul…
GUNUNGKIDUL - JUMAT KLIWON, Geger persoalan pembongkaran mushola Watu Bolong Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten…
GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, SEBANYAK 18 unit rumah dinas Batalyon C Pelopor Satuan Brimob Polda…
YOGYAKARTA - SELASA PAHING, Aipda S seorang oknum anggota polisi Polsek Kraton menjalani pemeriksaan Propram…
View Comments
Saya percaya itu akan terjadi secara total di bumi GK ini. Karena pada dasarnya orang GK itu banyak yg lapar. Kenapa bisa seperti itu ? Iya... Karena di GK sendiri nggak ada lapangan kerja yang standar. Jikalau pemerintah bisa baca situasi saat ini maka kekawatiran itu bisa di perlambat. Seperti kita tau bahwa daerah ini penuh batu kapur. Sayangnya bahan meterial itu oleh para penduduk di jual mentah. ya mereka nggak tau harus di apakan batu kapur ini selain di jual mentah. Coba kalo kita bisa bikin bahan jadi atau setengah jadi. Hasilnya pasti akan beda. Bayangkan, ketika sebuah truk membawa satu rit bahan itu. Ada berapa ton beratnya. Bandingkan kalo kita bisa mengolahnya jadi bahan jadi. Satu truk ada berapa ratus kaleng cat kalo di kemas.
Semoga kemakmuran yg ada buar warga gunung kidul.
Terlalu berlebihan