TAHUN 2019 KITA TETAP BERSAUDARA, TAHUN 2020-2045 KITA BAGAIMANA

401

WONOSARI, SABTU WAGE – Perang tagar (berbalas tagar) di media sosial tidak surut, bahkan semakin pikuk, meski itu diketahui merupakan indikasi kebodohan terbesar di abad milenia. Tagar 2019 Ganti Presiden dibalas dengan tagar 2019 Kita Tetap Bersaudara.

Targar balasan itu sepintas kreatif, bahkan ada yang menilai cerdas. Diukur dari sisi makna leksikal (arti menurut kamus) penilaian itu benar.

Persoalannya menjadi berbeda ketika kata bersaudara ditarik dalam prespektif Ketuhanan, sesuai amatkan UUD 1945, Pasal 29, Ayat 1.

Konsep bersaudara tidak bisa dimengerti hanya dengan membuka leksikon (kamus). Paparan teknis dalam kamus, serinci apa pun tidak akan mengurai esensi kata bersaudara.

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk,” Quran, Surat Ali Imran, Ayat 103.

Manusia yang bermusuhan dalam bentuk apapun, termasuk perang tagar, menurut Al-Quran merupakan cermin peradaban jahiliyah. Hidayat Nata Atmaja menyebutnya, jahiliyah ilmiah.

Tagar menjadi sangat norak, karena hanya untuk keperluan sesaat. Seruan bersaudara, tidak bisa dieksploitir secara politis hanya dalam batas 2019. Setelah tahun itu, kita mau apa? Kembali bermusuhan? Dalam titik inilah #2019KitaTetapBersaudara, terlihat sangat kerdil.

Untung, tegar 2019 kita tetap bersaudara, meski tulisanya sangat kecil, ditambahi keterangan “*dan seterusnya.” Bambang Wahyu Widayadi




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.