TAHUN 2024 NEGERI INI MEMASUKI AMBANG KEHANCURAN?

1129

ALAM memberi isyarat, tahun 2022 hujan datang lebih awal. Kebalikannya tahun 2004, bulan November, hujan belum juga turun. Ini isyarat apa, tidak setiap orang bisa merasakannya.

Pada pelaksanaan Pemilihan Presiden 2019 masyarakat Indonesia terbelah, satu berada di kubu Joko Widodo, yang lain mengikuti Prabowo Subianto. Menjelang Pemilu serentak 2024, masyarakat terpecah belah oleh media sosial yang nota bene adalah kejahilan globalisasi yang dikawal para cukong demokrasi.

Sementara itu yang jelas bahwa pemilik kursi Presiden Indonesia ke 8 sangat bergantung kepada:

Innamaaa amruhuuu idzaa araada syai-an ay yaquula lahuu kung fa yakuun.

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (Surah Ya-Sin Ayat 82)

Secanggih dan sehebat apapun penelitian politik para tukang survey, tidak akan mampu mendekati garis demarkasi, bahwa Si Suta Si Naya adalah pasti menjadi Presiden Indonesia ke 8 pengganti Joko Widodo.

Ada garis yang tidak mungkin mereka sentuh dan lampaui. Kewenangan manusia hanya mengamini apa yang telah tertulis di langit, sebelum Presiden Indonesia ke 8 itu memasuki Istana Negar.

Nama Presiden Indonesia ke 8 sudah ada, tetapi tidak satupun manusia Indonesia tahu, sebab memang tidak pernah diberitahu.

Tanda-tanda bahwa tahun 2024 bakal terjadi sesuatu yang luar biasa pun tidak dirasakan dan tidak banyak digubris. Kemungkinan biaya politik tambah menggila tidak diantisipasi.

Alam memberi pelajaran sangat jelas, bahwa tahun 2022 hujan terbalik, banyak turun di malam hari. Hujan pertama turun pada 30 September 2022 semalam suntuk seperti layaknya hujan di bulan Januari. Turun pada saat gelap, bukan di waktu terang.

Ini pertanda apa? Alam sedang marah? Barangkali iya, tetapi juga juga tidak, meski lembaga seperti BMKG seringkali menyebut cuaca ekstrim, yang itu tidak pernah disadari bahwa yang ekstrim sesungguhnya adalah pikiran manusia.

Tidak ada ceritanya alam (baca: cuaca) diciptakan untuk mengancam kehidupan manusia, kecuali memang diperintahkan-Nya. Semua orang perlu belajar kepada momentum, untuk apa Nabi Nuh diperintah membuat kapal, sementara kala itu Nabi hidupnya tidak di pinggir laut. Ending pembuatan kapal adalah pemusnahan bangsa manusia.

Untuk apa ngomong panjang lebar tidak akan berkhianat kepada Prabowo Subianto di acara Mata Najwa, kalau sekarang sibuk membangun rel sekaligus kereta cepat menuju 2024.

O ya, itu sih hak konstitusional, tetapi tidak boleh lupa, bahwa seseorang itu dipercaya karena ucapannya.

Hati-hati dengan momentum 2024, banyak orang berbalik, atau terbalik. Ucapan tidak lagi mencerminkan keikhlasan, tetapi cenderung diselubungi kejahilan. Begitulah potret jaman jahiliah digital. Persaudaraan dibuang, permusuhan digalang. Semua dinilai secara vulgar dengan duit.

KH Syukron Makmun dalam video berdurasi 2 menit 3 detik, mengingatkan, apa jadinya negeri ini jika pemimpin mata duitan, kyai mata duitan dan rakyat juga mata duitan. Hancur negara ini, ujar Syukron Makmun berapi-api.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.