Wono Pawiro Gupak Pulut, Pontjo Dirdjo Dahar Nongko

141

Ketua DPRD Gunungkidul, Suharno SE, melalui infogunungkidul.com, hari ini mengkritisi, bahwa Pemkab Gunungkidul Tidak Menghargai Demang Wono Pawiro.

Pikiran Pak Ketua Dewan menggelitik banyak pihak termasuk para netizen, pengguna face book. Mereka nimbrung mempertanyakan sikap pemerintah.

Sejumlah pengguna face book bengong, tercengang, terheran-heran. Netizen atas nama Nimas Ayu menganggap itu resiko tidak diajarkannya sejarah lokal.

“Kalau mata peljaran sejarah, terutama yang bermuatan lokal dihidupkan, kejadian tidak bakalan seperti itu,” ujarnya.

Amin Suprihatin, guru sekaligus aktris ketoprak yang memerankan Nyi Nitisari dalam Babad Nongko Doyong ikutan tersentak.

“O, jebul ngonot to (o, ternyata begitu),” ujar dia keheranan.

Nasib Ki Demang Wono Pawiro memang tak semujur Pontjo Dirjo.

Demang Wono Pawiro membuka alas Nongko Doyong, berhadapan dengan sejumlah Jin. Mendirikan pasar baru di sebelah barat sungai Besole,  yang resikonya dimusuhi  Tumenggung Puspo Wilogo.

Sial, yang ditunjuk bupati Gunungkidul I oleh Sri Sultan HB I, bukan Wono Pawiro, melainkan Pontjo Dirdjo.

Wono Pawiro yang belepot getah, Pontjo Dirdjo yang memakan nangka.

Mengapa ini terjadi? Pemerintah Kabupaten Gunungkidul hanya pintar berhura-hura dalam serimonial peringatan hari jadi, sementara tidak memiliki niat baik  menelisik sejarah berdirinya Gunungkidul, yang otentisitasnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ini hanya rerasan kawulo alit, terlontar habis merenung di kampung pahlawan, yang tidak populis di mata pemerintah, Jum’at Pahing 12/5/17.

 

Penulis: Maretha




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.