KABUPATEN Gunungkidul merupakan daerah agraris. Itu tidak bisa dipungkiri. Awal mata pencaharian warga bertani jejaknya sangat jelas.
Anak petani, pada dekade 60-an, setiap bulan purnama ramai melantunkan tembang dolanan berbahasa Jawa.
Inti tembang dolanan tersebut diakhiri dengan pertanyaan retoris tentang situasi dan kondisi tegal atau sawah orang tua mereka.
“Ancak-ancak alis
Si alis kebo janggitan
Anak-anak kebo dugul
Si dugul kembang mentiyung
Tiba rendheng,
Enceng-enceng Kokok Beluk
Unine pating selabruk
Ula apa ula dumung
Gedhene selumbung bandhung
Sawah Ira lagi apa?”
Demikian syair dolanan anak yang ditembangkan setiap mereka .berkumpul dan bermain di plataran rumah.
Pertanyaan anak petani itu bersifat retoris. Artinya pertanyaan tidak butuh jawaban.
Dalam membawakan tembang pun tidak sebagaimana lagu Ilir-ilir yang nuansanya ritmis.
Secara bersama anak-anak sepertinya malah ‘ngreper’, membawa lagu dengan ucapan biasa, tetapi dari kejauhan justru terdengar rampak, kompak.
Lalu apa hubungannya budaya tembang dengan budaya pertanian? Sebut saja itu dekat. Saling berhubungan.
Semesta ini unsurnya bumi, geni, banyu, angin. Skemanya dilukis Susuhunan Pakubuwono Ke-VII dalam siklus Pranatamangsa tertulis bantala, agni, tirta, maruta
Pada bulan Kapitu, Kawolu, dan Kasanga, Mangsa Rendheng yang lambangnya tirta (air) pertanyaan anak-anak, “Sawah Ira lagi apa,” terjawab sudah.
Itulah masanya petani sawah tadah hujan sibuk membuat pesemaian yang disebut ngurit, kemudian tandur dan matun.
Paralel dengan prosesi tanam padi gaga, mulai dari garap lahan, ngawu-awu serta dhuduh (menyingangi / bersihkan gulma).
Lagu Ancak-Ancak Alis tidak diketahui siapa pengarangnya, tetapi tembang tersebut menunjukkan bahwa budaya pertanian begitu mewarnai sanubari anak petani.
(Bambang Wahyu)













