Gunungkidul: Rasio Ketergantungan Masih Tinggi

247

Disdukcapil Gunungkidul semester satu Juni 2022 melansir, bahwa rasio ketergantungan penduduk yang tidak bekerja terhadap penduduk yang masih produktif bekerja berada di angka 48,73 prosen.

Angka tersebut tergolong tinggi karena beban yang dipikul oleh kelompok angkatan kerja sangat besar.

Setiap 100 penduduk produktif harus memikul beban ekonomi penduduk usia anak dan lansia sebanyak 124.404. Artinya setiap penduduk produktif menanggung 1.224 jiwa.

Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Gunungkidul, Rintang Awan Eltribakti Umbas menyatakan, sebenarnya tidak ada standar khusus penyebutan angka ketergantungan tinggi atau rendah.

“Namun beberapa literasi menyebutkan jika kurang dari 30 disebut rendah,” terang Eltribakti Umbas, 20-1-2023.

Rasio ketergantungan (dependency ratio) digunakan sebagai indikator kasar yang menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara, apakah tergolong maju atau sedang berkembang.

Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif.

Persentase dependency ratio semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif.

Berkaitan dengan Gunungkidul, rasio ketergantungan 48,73 persen. Ini berarti bahwa setiap 100 penduduk usia produktif mempunyai tanggungan sebanyak 49% orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif.

Intinya, menurut Eltribakti Umbas, makin tinggi angka ketergantungan, makin berat tanggung jawab usia produktif sehingga perlu ada mitigasi risiko.

Sejumlah pengamat demografi menyarankan, untuk menekan angka ketergantungan, gerakan keluarga berencana pantas untuk kembali digiatkan.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.