Kamijan Pendek, Pengamen Bermodal Jutaan Rupiah

380

WONOSARI, Kamis Kliwon | Mencari nafkah untuk menghidupi anak istri dengan cara mengamen merupakan pilihan sulit dan berat. Secara sosial, hidup dengan cara itu, tak ubahnya sebagai meminta belas kasih pihak lain.

“Tidak. Saya tidak mengemis belas kasih. Ngamen saya lakukan dengan sadar, karena saya harus menghidupi dua istri, empat anak yang masih bersekolah,” ujar Kamijan (24/04).

Baca juga: 

Dukung Ekonomi Masyarakat, MPM Finance Kerjasama Dengan BUMDES Tileng

Pria berperawakan gemuk pendek kelahiran 1976, warga Rt. 4, Rw. 1, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Gunungkidul, DIY ini, setiap hari mangkal di warung bakso Pak Wariun, di kompleks Taman Parkir jantung kota Wonosari.

“Ada yang memberi sekedarnya, alhamdulillah, ada pula yang cuma lewat, tidak masalah” kata Kamijan tegar.

Dia mengaku nekad hidup mengamen sejak lima tahun silam. Bapak empat anak ini lincah bermain gitar yang secara elektris dicolok ke speaker aktif rakitan tangan sendiri.

Baca juga:

Geger Semprot Urine Kambing, Segala Tanaman Ijo Royo-Royo 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.