OPINI

MONUMEN BHAkTI WIRATAMA, SEJARAH YANG TERTIMBUN GEMPA

PATUK-Selasa Wage– Perda DIY Nomor 3 Tahun 2017 mengatur soal pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan. Monumen, berdasarkan Pasal 5 huruf f, digolongkan ke dalam benda hasil cipta, rasa dan karsa masyarakat. Monumen Bhakti Wiratama (MBW) yang hancur karena gempa 27 Mei 2006, masuk di akal jika memperoleh perhatihan besar dari Pemda DIY. Alasannya, MBW merupakan bagian terkecil dari Serangan Oemum (SO) 1 Maret 1949. Pertanyaannya, Kapan Pemda DIY melirik MBW.

MBW dibangun di atas tanah hak milik, oleh Santosa Amanjaya (almarhum) dimulai pada tahun 1980-an. Santosa Aj. merupakan tokoh penggali rangkaian sejarah SO yang faktual terjadi di Padukuhan Putat Wetan, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Gunungkidul.

Kehadiran MBW tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan erat dengan gedung Sekolah Dasar dan SMP Pertanian Bhakti Wiratama, hadiah dari mendiang Jenderal Widodo. Saat ini gedung tersebut dipergunakan oleh Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bunder II.

Gedung SD dan SMP Bhakti Wiratama, dihimpun dari berbagai sumber dibangun pada tahun 1970. Donatur utama adalah institusi militer, yang saat itu diprakarsai Jenderal Widodo.

Petinggi militer yang kabarnya lahir di Semin Gunungkidul ini menyumbang tujuh lokal gedung sekolah kepada masyarakat Padukuhan Putat Wetan, Desa Putat, Kecamatan Patuk, bukan tanpa alasan.

Sebelum puncak SO 1 Maret, Widodo ditugasi Letnan Soeharto berkonsolidasi dengan para gerilyawan. Dia bergerak dari Bugisan, menuju Brebah, Prambanan, Gantiwarno, Gembyong, Terbah, Nglanggeran, Putat, Dlingo, finis di Segoroyoso.

Di Putat Wetan, Widodo memergoki, kemudian memukul mundur patroli Belanda yang bermarkas di Lanud Gading. Widodo meneruskan perjalanan, Belanda naik pitam, membakar tujuh rumah warga Padukuhan Putat Wetan.

Terkait dengan peristiwa tersebut, ketika berpangkat Jendral, Widodo menghadiahi masyarakat berupa satu unit gedung sekolah SD dan SMP Pertanian Bhakti Wiratama. Sejak tahun 1972 gedung tersebut digunakan oleh SDN Bunder II.

Papan nama SD dan SMP Bhaktiwiratama telah lama diturunkan. Bangunan bersejarah pemberian Jendral Widodo telah berubah, dan MBW kini juga rata dengan tanah.

Tidak satu lembaga pun berani menganyam kembali benang sejarah terkoyak guna menghadirkan kebesaran perjuangan para pendahulu. (Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Indikasi Praktik Manipulasi TPR Baron, DPRD Minta Audit Menyeluruh

GUNUNGKIDUL-SENIN KLIWON, Persoalan tata kelola pendapatan sektor pariwisata khususnya wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, masih…

4 hari ago

Lupa Matikan Kompor, dua Rumah Ludes Terbakar Berikut Perhiasan dan Uang Tunai

TANJUNGSARI - SENIN KLIWON, Rumah milik Karim (71) warga Padukuhan Panggang 02/10, Kalurahan Kemiri, Kapanewon…

5 hari ago

Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

YOGYAKARTA-SENIN KLIWON, Lintas generasi alumni Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta menggelar acara halalbihalal nasional di Swiss-Belresidences…

5 hari ago

Kronologi Lengkap Penemuan Mayat Kering di Dalam Mobil Terparkir

YOGYAKARTA - MINGGU WAGE, warga Dusun Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, provinsi DIY…

6 hari ago

Diduga Mencuri Sepeda Gunung, Oknum Anggota SatPol PP Diamankan Polisi

WONOSARI - SABTU PON, Sebuah  tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…

1 minggu ago

DPPPAPPKB dan Polres Gunungkidul Bersinergi Kawal Kasus Asusila Anak di Bawah Umur

GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…

1 minggu ago