PILKADES 13 OKTOBER 2018, HARUS BELAJAR DARI KASUS RUKAMTO KEPALA DESA DADAP AYU

174

NGLIPAR, SENIN PON-Perhelatan demokrasi lokal pemilihan Kepala Desa di Gunungkidul telah selesai di laksanakan. Sebanyak 30 Kepala Desa baru lahir lewat pilihan langsung. Suka cita tentu saja mewarnai hati calon terpilih dan pendukungnya, namun tidak demikian bagi calon maupun tim yang kalah. Pelaksanaan yang damai semoga ke depan juga berjalan damai dan calon yang kalah segera dirangkul untuk membantu program kepala desa baru.

Belajar dari Rukamto yang dipaksa turun jabatan di tahun kedua, bisa dipakai cermin oleh siapapun, bahwa kompetisi pilkades itu memang ada yang menyisakan persoalan dikemudian hari.

Mestinya perangkat desa dan BPD tidak terjebak dukung mendukung kandidat, sehingga siapapun Kades pilihan rakyat harus didukung bukan malah dihambat atau dimusuhi.

Kepala Desa incumbent pasti tak ada masalah, dia sudah menguasai medan, tinggal melanjutkan program, namun bagi kades baru, perlu orientasi. Tugas baru itu pasti memerlukan waktu untuk mengenali perangkat desa yang akan membantunya. Kades baru harus mensosialisasikan visi missinya kepada perangkat dan BPD agar bisa sinkron. Jadi tidak bisa langsung start, semua perlu waktu.

Jangan karena kehati-hatian itu dijadikan senjata pihak tertentu untuk mengatakan kades baru tidak mampu, sehingga dengan kewenangan yang dimiliki menyusun strategi untuk menjatuhkan Kades pilihan rakyat.

Kasus Rukamto yang sampai saat ini masih menempuh hukum cari keadilan harus dijadikan pelajaran berharga. Kepala Desa hasil pilihan rakyat secara demokratis semestinya tak mudah dijatuhkan.

Selamat bekerja bagi sahabatku kepala desa baru. Dan juga trimakasih kepada sahabatku calon kades yang belum berhasil karena jiwa besarnya menghargai hasil demokrasi.

Oleh: Slamet, S.Pd. MM




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.