PRESIDEN Republik Indonesia yang berani mengutip ayat Al-Qur’an di depan pemimpin dunia hanya Soekarno. Hadist kerap kali dia kutip dalam berbagai tulisan dan pidatonya. Kebiasaan itu jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan oleh presiden-presiden berikutnya.
Dalam buku Total Bung Karno: Serpihan Sejarah yang Tercecer (2013), ahli sejarah Roso Daras menyebutkan Bung Karno orang yang pertama kali mengutip ayat Alquran saat berpidato di hadapan para pemimpin dunia.
Di depan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) XV 30 September 1960, tulis sejarawan Suroso Daras, dengan suara khas yang menggelegar, Soekarno menukil terjemahan Al-Hujarat Ayat 13 dengan sedikit perubahan terjemahan.
“Hai sekalian manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa kepadaKu.”
Usai membaca kutipan tersebut, tepuk tangan peserta sidang gemuruh membahana.
Bung Karno berbuat begitu, karena cukup lama dia berguru kepada HOS Tjokroaminoto pendiri Sarekat Islam (SI)
Kemudian naskah yang bertema keislaman pun setidaknya ditemukan lima judul: 1. Islam, Agama Amal disampaikan dalam peringatan Nuzululquran 15 Maret 1960, 2. Al-Qur’an Membentuk Manusia Baru (6 Maret 1961), 3. Mencari dan Menemukan Tuhan (12 Februari 1963), 4. Api Islam, Motor Terbesar Umat Manusia (1 Februari 1964), serta 5. Islam adalah Agama Perbuatan (10 Januari 1966).
Presiden penggantinya jarang yang mengutip Al-Qur’an secara terang-terangan, termasuk Megawati Soekarnoputri anak Bung Karno.
Tidak diketahui apa alasannya, padahal sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.” Di Pasal 29 Ayat 1 pun ditulis bahwa Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Para ketua parpol yang mengaku bernafaskan Islam pun di panggung negara tidak ada keberanian mengutip ayat Al-Qur’an untuk menyampaikan kebenaran.
Jagat politik kumuh dengan korupsi, Parpol Islam bungkem, bahkan sebagian anggota nimbrung melakukannya.
Banyak orang merindukan Presiden juga Pemimpin yang memiliki keberanian mengayomi rakyat dengan kalimat yang menyejukkan hati. Dan itu bisa ditemukan di dalam Al-Qur’an dan Hadist.
Kembali ke Bung Karno, dia juga sering mengutip hadist yang cukup terkenal dalam konteks kepemimpinan.
“Bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu / pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) dari hal hal yang dipimpinnya.”
Hadist di atas bersifat universal dan mencerahkan. (Bambang Wahyu)













