SEMARANG, dihantam Banjir Rob. Efeknya Demak dan Pekalongan terdampak. Dikabarkan, 8000 KK kocar-kacir, pertanda zaman makin tua, sebentar lagi jagat digulung. Mbayu Waljinah berpesan sederhana Semarang kaline banjir.
Banjir Rob di Semarang, bukan sembarang banjir. Ada sebab yang kasad mata, ada pula sebab yang tidak nampak. Tentang sebab yang kedua, manusia tidak bisa berbuat banyak.
Berguru kepada sejarah banjir terbesar di dunia mungkin lebih utama, karena akan melahirkan kesadaran tertinggi betapa lemahnya manusia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-‘Ankabut Ayat 14.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.”
“Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan (karena) mereka adalah orang-orang yang zalim.”
Kata banjir dalam Al-Qur’an ditemukan tiga ayat dalam tiga Surah yakni Al-Mu’minun, Al-‘Ankabut dan di dalam Surah Saba’.
“Lalu mereka benar-benar dimusnahkan oleh suara yang mengguntur, dan Kami jadikan mereka (seperti) sampah yang dibawa banjir. Maka binasalah bagi orang-orang yang zalim.”
(Al-Mu’minun: Ayat 41)
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr.” (Saba’: Ayat 16).
Banjir Rob di Semarang, tentu ada maksud tertentu, sementara manusia tidak mampu menjangkau pesan utamanya. Manusia sebagian mengeluh, sebagian bermohon.
Wakil ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho, S.Sn. berucap, bahwa lelara rata sak ndonya, samudra ngelem daratan.
“Ingat serta waspada adalah penting. Para pemimpi masih berembuk soal banjir,” ujar Heri Nugroho 24-5-2022.
Penyanyi Walang Kekek Waljinah pernah berpesan, Semarang kaline banjir, ja semelang ra dipikir. Mikirnya seberapa jauh Menunggu surutnya air. (Bambang Wahyu)






