Sidang Kasus Korupsi RSUD Wonosari, Dua Saksi Pura-Pura Dungu

909

GUNUNGKIDUL-JUMAT PAHING | Sidang kasus korupsi matan Direktur RSUD Wonosari drg. Isti Indiyani MM. 16 Agustus 2022 di Pengadilan Tipikor DIY memasuki agenda mendengarkan keterangan sejumlah saksi. Mantan Penasehat Hukum drg. Isti menganalisa keterangan dua saksi perdana.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anto Donarius Holyman SH mengajukan enam saksi, terpantau semua dokter dari Komite Medis.

Mereka adalah dr. Hantyanto Noriswanto, Sp.PD dr. C Dyah Herawati, dr. Nafida Justica Sofiana, dr. Bintang Berlian, Sp.An, MPH, dr.Trisna Rahmat Hidayat dan dr. Nia Ariasti Sp.M.

Dua saksi perdana yang diminta keterangan olehĀ  Hakim adalahĀ  dr. Hantyanto Noriswanto, Sp.PD dr. C Dyah Herawati.

Dua orang dokter tersebut membuat Hakim Rudi, SH jengkel karena jawabannya hanya berkisar dua kata, tidak tahu dan tidak ingat.

Winarno MP, SH mantan Penasehat Hukum drg. Isti Indiyani, MM menyimak fakta persidangan mencoba membuat analisis.

“Itu menunjukkan dan membuktikan bahwa saksi-sakdi dari komite medis yang terdiri dari beberapa dokter RSUD Wonosari tidak paham dan tidak mengerti bahwa dalam perkara ini memang tidak ada perbuatan melawan hukum berupa korupsi.

Mereka bingung dan gagap menjawab pertanyaan hakim, karena uang jasa medis/ labiratorium itu sesungguhnya hak mereka. Kenapa diminta kembali kok bersedia?

Uang itu diberikan jauh jauh hari.Ā  Uang tersebut hak para saksi di tahun 2009-2011 pada masa Direktur RSUD Wonosari sebelum menjadiĀ  terdakwa. Tidak ada aturan yang menunjukkan uang jasa medis itu uang negara.

Uang yang diterima para saksi kemudian dikembalikanĀ  tidak jelas tanda terima dan tanda pengembaliannya, karena itu cuma diminta secara lisan oleh terdakwa dan tidak ada laporan pertanggungjawabnnya.

Hal ini mengindikasikan dan menunjukkan bahwa para saksi dalam BAP memberikan keterangan atas pertanyaan penyidik yang sudah diarahkan untuk membidik tersangka/ terdakwa,” kupas d.Winarno MP, SH, (18-8-222).

Terlepas dari analisis Winarno, Aris Suryanto yang saat ini adalah Sekretaris Dinas Kominfo Gunungkidul berdasarkan fakta persidangan menyatakan, bahwa sebagian besar uang yang dipersoalkan di Pengadilan Tipikor justru dipergunakan oleh Komite Medis.

Aris melihat dua saksi perdana mengaku, uang yang harus dikembalikan Rp 488 juta, tetapi dalam sidang terungkap hanya Rp 266 juta.

Uang yang lain ke mana? Sepengetahuan Aris, ada pegawai yang menerima uang Rp 1 juta, tetapi hanya mengaku Rp 500 ribu, sehingga yang dikembalikan hanya yang diakui.

Ada fakta lain bahwa dari enam dokter yang diajukan sebagaiĀ  saksi, menurut Aris Suryanto dua di antaranya pernah mengaku menerima uang jasa, padahal sepeserpun mereka tidak menerima.

“Sidang pemeriksaan saksi selanjutnya, hal itu pasti terungkap,” ucapnya.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.