Tradisi Nyadran Ditafsirkan Berbeda Menyatu di Bawah Pohon Besar

146

NGLIPAR-Selasa Kliwon | Sebagian warga Padukuhan Nglebak, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul melestarikan adat nyadran dalam keyakinan ganda. Sesaji dan kenduri secara Hindu, ditutup dengan doa secara Islam.

Warga, yang sebagian besar perempuan, berkumpul di bawah pohon Bibisan, Jambu Alas, Kepil, Gayam, dan Nyamplung, membawa makanan untuk keperluan kenduri, menyongsong kirab budaya dalam rangka Bersih Dusun Rabu Legi, (10/7) besok.

Rebutan Makanan Saat Kenduri Rasulan Versi Pejabat Kebudayaan

Tradisi sesaji dilakukan di dua sumber mata air yang berbeda. Senin Wage di sumur Nglebeng, Selasa Kliwon 9/7 di Melikan.

Marto Taruno (90) bertindak sebagai yang dipercaya warga untuk membuka kunci panuwunan (permohonan: red). Dia  membaca mantra berbahasa jawa sembari membakar kemenyan.

Warga menyerahkan abon-abon  berupa sirih, gambir, susur tembakau,  rokok, kemenyan dan uang Rp 5.000,00, dibungkus daun pisang untuk keperluan sesaji.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.