Diminta berkomentar, Joko Priyatmo (Jepe), pengamat politik menyatakan, sosialisasi Slamet sangat bermanfaat dalam arti membantu KPU, tetapi tidak mencerahkan bagi calon pemilih.
“Pemilih usia di atas 50 tahun, apalagi warga pedesaan, ada kecenderungan mereka makin bingung,” ujar Jepe, (13/03).
BACA JUGA: Politisi PAN Dapil Gunungkidul 2 Yakin Bisa Rebut Tiga Kursi
Menurutnya, hal yang dilakukan Tim Relawan Slamet masih sangat teoritis. Terbukti, ketika diminta memperagakan membuka surat suara warna biru, calon pemilih kedodoran dan gagap.
“Saran saya, ini untuk seluruh caleg, lakukanlah simulasi pencoblosan. Calon pemilih diberi 5 kartu suara, seolah-olah berada di bilik, diajari proses membuka, mencoblos, dan melipat kembali. Ini lebih efektif,” papar Jepe.
BACA JUGA: Target Pileg Dan Pilpres 2019: Pemilih Cerdas Pemilu Berkualitas
Dia yakin, bahwa sosialisasi yang sangat abstrak, tidak akan membawa ke arah pemilu berkualitas. Pasalnya, kata Jepe, calon pemilih manula, tidak seluruhnya cerdas, terlebih mereka yang tinggal di pedesaan.






